Back

Menelusuri Sunflower Shiretoko di Pelabuhan Oarai: Sebuah Cerita dari Jepang untuk Laut Indonesia

Oleh: Fajar Yusuf Hikmawan & AA. Ngr. Henry Darmawan Perwakilan dari PT. Jasaraharja Putera

Sekitar dua jam perjalanan dari hiruk-pikuk distrik Shinjuku di jantung Tokyo, terdapat sebuah kota pelabuhan tenang bernama Oarai. Di sanalah kami memulai perjalanan profesional kami, bukan untuk sekadar menikmati angin laut Jepang, melainkan untuk menjalankan tugas penting: melakukan survey kondisi kapal ferry Sunflower Shiretoko, kapal yang dalam waktu dekat akan berlayar membawa harapan baru di perairan Indonesia.

Dibangun pada tahun 2001, Sunflower Shiretoko adalah kapal ferry berkelas nasional yang telah disetujui oleh Japan Government (JG) yaitu badan klasifikasi resmi yang bertanggung jawab atas sertifikasi dan keselamatan kapal-kapal di Jepang. Kapal ini beroperasi dari pelabuhan pribadinya dan melayani pelayaran lokal jarak dekat, sehingga tidak memerlukan sailing permit seperti halnya kapal yang melintasi lintas batas atau wilayah internasional. Namun begitu, kapal ini tetap berada di bawah pengawasan ketat melalui inspeksi rutin oleh Biro Transportasi setempat, yang menjamin bahwa semua aspek teknis dan keselamatan selalu terjaga.

Salah satu hal menarik dari kunjungan kami adalah pengamatan langsung terhadap kesiapan sistem keselamatan kapal. Fire drill yaitu latihan darurat kebakaran belum dilakukan pada saat survey, karena kapal ini sedang dalam masa transisi menunggu kru baru yang akan didatangkan dari Indonesia. Ini merupakan prosedur standar. Pelatihan keselamatan tersebut akan segera dijalankan setelah kru baru tiba, sebagai langkah penting dalam integrasi operasional.

Yang lebih menggembirakan, peralatan keselamatan utama seperti APAR (Alat Pemadam Api Ringan) tersedia dalam kondisi baik di seluruh titik strategis kapal, termasuk ruang mesin dan geladak kendaraan. Ini menunjukkan komitmen kapal terhadap standar keselamatan yang tinggi dimana suatu hal yang sangat kami perhatikan dalam proses asuransi.

Inilah alasan utama kami hadir di Oarai: untuk melakukan penilaian langsung atas kondisi kapal sebelum proses pengalihan bendera dan operasional di Indonesia. Proses asuransi maritim bukan sekadar bentuk perlindungan finansial atas aset berharga, tetapi juga mencerminkan tanggung jawab kolektif terhadap keselamatan di laut.

Sebagai profesional di bidang ini, kami melihat bahwa proses pembelian dan inspeksi seperti ini bukan sekadar transaksi, tapi bagian dari upaya meningkatkan kualitas armada laut nasional. Kapal-kapal seperti Sunflower Shiretoko, ketika dikelola dengan benar, bisa menjadi aset penting dalam membangun konektivitas antarpulau yang aman dan andal.

Kapal ini memang bukan kapal baru. Namun seperti halnya buku lama yang masih penuh cerita, Sunflower Shiretoko membawa rekam jejak yang kuat, sistem yang rapi, dan kesiapan untuk melanjutkan tugasnya dalam medan baru. Kami optimistis, setelah melalui proses adaptasi dan pelatihan kru, kapal ini akan mampu memberikan pelayanan terbaik di perairan Indonesia.

Dari Oarai hingga ke pelabuhan-pelabuhan nusantara, inilah bagian kecil dari cerita besar transformasi maritim kita. Dengan sinergi antara pihak operator, regulator, dan perusahaan asuransi, kita tidak hanya menggerakkan kapal, tapi juga menjaga keselamatan, reputasi, dan masa depan industri pelayaran nasional.

Fajar Hikmawan
Fajar Hikmawan

Leave a Reply