Foto : di depan Katedral Lima , Peru , November 2017
Menjelajahi Dunia Asuransi Mikro Bersama Bank Dunia
Dengan asuransi mikro ABG menggeluti dunia baru . Menikmati kembali dunia pendidikan dengan metode didaktik yang ia dapatkan di bangku kuliah IKIP. Dengan tugas dari Bank Dunia dan Bapepam LK (sekarang OJK ) melaksanakan misi literasi, membangun kesadaran tentang perlunya asuransi mikro untuk masyarakat Indonesia yang lebih dari 60 persen tidak memiliki perlindungan asuransi. Bapepam, OJK dan Bank Dunia melakukan inisiasi untuk menyusun program asuransi mikro dan menyadari sejak Bapepam LK menginisiasi dilanjutkan OJK melihat bahwa asuransi mikro bak bayi mungil yang tengah dalam asuhan , ia melihat bagaimana semangat untuk menyapa dan menjelaskan manfaat bagi masyarakat
ABG merasa “dicemplungkan” dalam dunia baru ini. Sesuatu yang tidak terduga. Saat itu tahun 2011, sebagai direktur eksekutip AAUI ( Asosiasi Asuransi Umum Indonesia ) menurut kontrak masih dapat bertugas beberapa bulan lagi. Menyadari pimpinan asosiasi ingin melakukan penyegaran dengan sosok yang lebih mumpuni ,dilakukanlah pergantian sesegera mungkin. Setiap orang yang hadir di acara perpisahan tersebut melihat bahwa ia memang harus pergi. Hari itu mengambil tempat dimana si ABG menjadi komisaris utama, di satu ruangan itu ia harus mohon diri dengan tegar. Dilanjutkan dengan bertemu beberapa sahabat dekat ibu S, bapak B, bapak S mengundangnya makan siang. Ia berterima kasih kepada para sahabat yang setelah perpisahan mengundangnya makan siang di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Barat. Mereka mencoba menghiburnya dengan mengatakan “Percayalah, pasti Tuhan akan memberi tempat yang baik lagi untuk kamu” , sungguh membuatnya tegar. Ia berkata kepada seorang sahabat dekat , bahwa dia akan melakukan ziarah ke Jerusalem untuk menenangkan hati.
Dua hari berselang setelah selasa siang yang tak terlupakan, ia mendapat telpon dari seorang ibu dari kantor Bank Dunia Jakarta , ibu NL yang selama ini menjadi teman diskusi tentang asuransi. Beliau meminta untuk mencarikan orang yang siap membantunya untuk pengembangan asuransi mikro. Diusahakan orang tersebut memiliki ijasah S2 , memiliki pengetahuan dan relasi dengan dunia asuransi.
Sebagai teman diskusi, ia mengusulkan beberapa nama dengan latar belakangnya, namun mereka umumnya masih aktif sebagai eksekutif. Tanpa diduga muncul pertanyaan menarik tak terlupakan “Pak Frans sekarang dimana?” Ia menjawab “ tidak ada dimana-mana bu ”. Lalu ibu tadi bertanya “apakah bisa kirim CV”. Terkejut menyadari bahwa dirinya bukan orang pandai, bukan lulusan S2 seperti yang diminta , hanya lulusan IKIP.
Di Bank Dunia ia mendapat pendampingan dari seorang ibu muda sekitar seusia anaknya. Dia menariknya bergabung dan langsung berkomunikasi dalam bahasa Inggris setiap kali meeting, bertemu langsung maupun conference call dengan tim dari Washington dan senior consultant dari UK. Dunia baru dengan tugas menarik karena ia harus berkeliling bertemu komunitas komunitas untuk melakukan penjajagan dengan satu kata apakah mereka memerlukan perlindungan yang sederhana, mudah, murah dan cepat dalam penyelesaian claim asuransi. Kenangannya kembali ke dunia pasar tradisional. Dulu ia bertemu orang di pasar, sekarang ia bertemu orang di berbagai tempat, termasuk pasar, bertemu kelompok ibu-ibu, bapak-bapak, petani, petambak, tukang berbagai keahlian, kelompok masyarakat keagamaan, pesantren, paroki, jemaat gereja, kelompok Banjar, kelompok koperasi dan kembali berkeliling Indonesia. Dari 2011 sampai dengan 2016 ia bersama tim menjelajahi Jawa, Bali, Lombok, NTT, Lampung, Bengkulu, Medan, Aceh, Banjarmasin, Palangkaraya, Makasar, Manado, Ambon, sampai dengan Saumlaki.
Pergaulannya menjadi lebih luas, bukan terbatas lagi kepada lingkup Indonesia, melainkan mendunia dengan asuransi mikro konvensional dan syariah. Ia kembali membuka cakrawala kehidupan. Pengalaman “dicemplungkan” menjadi catatan bahwa dalam iman Tuhan mengatur indah pada waktunya tanpa ia sadari. Indonesia yang begitu luas, terlalu indah dan tidak cukup hanya ditulis dalam coretan ini. Ia berkeliling menghadiri berbagai pertemuan dan seminar. Bertemu dengan tokoh-tokoh yang semula hanya ia lihat atau baca dari berita, bertatap muka. Berdiskusi dengan tokoh tokoh asuransi mikro di Budapest, Washington, Mexico, Lima, Lusaka, Colombo, Agra, Yangoon, Auckland, Seoul dan kota kota lain membuatnya merenung, apalah arti ABG mendapatkan anugerah bertemu dengan mereka. Kadang ia mendampingi atasan dalam kunjungan ke negeri orang, tetapi ia juga mendampingi pejabat regulator Indonesia yang sangat ingin mengembangkan asuransi mikro dan kadang ia harus menempuh perjalanan dinas sendiri mewakili Indonesia dalam kancah diskusi di negeri seberang

Peta perjalanan ABG mengarungi lima benua selama menggeluti asuransi mikro
Ia mengenal Indonesia dan kekhasannya melalui pergumulan dengan asuransi pasar tradisional dan ia mengenal berbagai belahan dunia melalui keterlibatan di asuransi mikro konvensional dan syariah.
Asuransi mikro membuat cakrawala ABG kian terbuka mengenal berbagai macam komunitas. Setiap kali berkunjung ke suatu komunitas, ia selalu meminta nomor telpon sehingga komunikasi tetap terjalin. Ia punya teman ngobrol dengan grup WhatsApp, terkait bisnis ataupun tidak. Nama-nama seperti Awaludin dari Aceh, Parno dari Malang, Sriyono dari Lereng Merapi, Safarudin dari Lombok, Frans dari Atambua, Lisbeth dari Menado, Betty dari Bogor, Suprapto dari Godean, Haji Haris dari Probolinggo, Danny dari Bali dan lain lain juga ia jaga relasi dengan tokoh dari negeri orang yang bisa menjadi nara sumber pengetahuan, komunikasi seperti dengan H.Moslehudin dari Bangladesh, Lorenzo dari Manila, Peter Wrede dari Washington, Makale dari Zambia, Craig dari ILO, Dirk dari Munichre, dan lain lainnya sungguh membuatnya menjadi kaya. Melalui keterlibatan dengan asuransi mikro, ABG pernah berdiskusi dengan Mohamad Yusuf pendiri Greemin Bank Bangladesh, tokoh sederhana yang sangat peduli dengan kaum lemah .
Dunia pasar tradisional yang ia geluti selama dua dasawarsa menorehkan keunikan dan pengalaman, demikian pun dengan asuransi mikro ia mendapatkan banyak kenangan indah ( Bersambung )