Foto : Colombo , September 2018
Pernik pernik literasi
Ia lebih banyak bertemu dengan masyarakat yang berkumpul di komplek masjid dalam rangka kegiatan literasi di daerah Meulaboh Aceh . Bertemu dengan mereka sungguh membuat ia menjadi kaya akan cara berkomunikasi. Di suatu desa 65 km dari Meulaboh, ia datang dengan mobil dilanjutkan dengan menyeberangi sungai atau krueng besar. Melewati jembatan gantung tetapi jarak lebih jauh atau melewati tali tambang dengan menyeberangi sungai untuk sampai lokasi. Memberanikan diri berjalan di atas tambang, baru berjalan tidak lebih dari 50 meter, dibawah melihat derasnya sungai dan angin menerpa kencang, membuatnya ciut dan mengurungkan diri dengan mengambil jalan memutar. Sampai di kampung, ia disambut dengan hangat, menghisap rokok dari daun nipah Bersama masyarakat, meminum kopi dengan cara unik dan menikmati suasana keterbukaan yang indah.
Diterima di kelompok perumahan dan tidak ada bapak-bapak, karena semua bekerja dan tinggal ibu-ibu di sebuah komunitas ibu ibu di Medan. Bersama anak-anak memenuhi rumah kosong yang digunakan sebagai tempat berdiskusi. Amat menarik dari sisi pola metodik didaktik, menjelaskan suatu masalah dengan bahasa dan ungkapan sederhana, di depan para ibu-ibu dan anak anak yang riuh , membuatnya tidak boleh menyerah. Menjelaskan asuransi dengan cara santai dan bermain menjadi pola yang memerlukan keahlian tersendiri.
Di Jogya, kota dimana ABG tinggal, berhadapan dengan sikap marah dan menolak dari warga yang tidak mau mendapatkan penjelasan terkait asuransi. Seorang bapak dengan penuh emosi berkata dalam bahasa jawa “bapak ibu bade njelaske asuransi nggih….. edan tenan, asuransi niku asu tenan (Bapak dan ibu ini mau bicara asuransi ya….asuransi itu benar benar anjing). ABG mendengarkan ungkapan kemarahan, bagaimana ia mencoba menenangkan sang bapak dan akhirnya ia minta maaf. Bersyukur sang bapak tersebut tenang kembali mengikuti acara sampai akhir dan bisa memahami apa yang dijelaskan. Ternyata bapak tersebut mempunyai pengalaman sangat mengecewakan dengan petugas asuransi ketika setelah membayar premi ditinggalkan begitu saja.
Di pesisir Sumatra, ia bertemu dengan kelompok petani dan nelayan. Ternyata mereka sudah mengenal asuransi dan menjadi kebanggaan mereka karena tahu asuransi telah dikenal dan dimiliki oleh masyarakat di situ. Mereka pun sadar bahwa perusahaan dimana mereka menaruh harapan sudah tidak beroperasi . Dengan nada sedih, mereka bertanya “ bagaimana nasib uang kami yang ditempatkan di sana ?….”. Pengalaman pilu yang tidak mudah untuk mendapatkan jawaban.
Manado menjadi kota dengan pengalaman unik ketika mendapatkan tanggapan yang mengagetkan saat berbicara tentang asuransi mikro dengan premi murah . Ibu ibu yang hadir dalam pertemuan tersebut, dengan penampilan mewah bercerita bahwa sudah memiliki asuransi dengan premi jutaan rupiah dari perusahaan asing besar. Mereka berbicara asuransi unit link yang premi bulanannya jutaan rupiah .
Bersama tim menikmati suasana kehangatan yang luar biasa di pulau Tanimbar . Setiap kali menyampaikan presentasi dalam forum resmi yang difasilitasi oleh pemerintah daerah disambut gegap gempita oleh warga . Menjelaskan asuransi mikro menjadi menarik dan mengagetkan menjumpai ungkapan bahwa mereka berminat dengan asuransi mikro . Timbul pertanyaan apakah ada perusahaan asuransi yang mau datang ke pulau yang kecil dan terpencil. Terbukti sampai sekarang belum ada yang bersedia masuk ke daerah tersebut.
Pertemuan menjadi sangat menarik karena mereka menyambut tim dengan sangat antusias. Dari mulut ke mulut mereka bercerita bahwa ada penjelasan tentang perlindungan yang terjangkau . Ketika diijinkan untuk memberikan paparan di tengah pasar, tak pelak lagi para pedagang menutup kios dan mendengarkan paparan . Demikian juga ketika diundang di suatu desa disambut dengan penuh kehangatan. Namun sampai sekarang mereka masih menunggu orang asuransi datang menjual produk yang terjangkau dan sangat mereka butuhkan.
Berbagai pertemuan, diskusi dengan berbagai macam komunitas menjadi keunikan dan pengalaman yang sangat berharga . Terjun ke masyarakat lapisan bawah dan berbicara dengan bahasa dan ungkapan yang sederhana menjadi kekuatan.
Dalam suatu peristiwa, di suatu pesantren Jawa Timur, seorang kyai berhasil memperkenalkan asuransi mikro kepada para santri dan masyarakat setempat. Demikian semangat bahkan sempat menegur dan berbicara dengan nada tinggi tetapi ABG diterima dengan ikhlas dan dengan keunikan jawa timuran bisa tergelak bersama. Peristiwanya cukup unik karena saat terjadi klaim, pembayaran yang cepat diserahkan kepada yang berhak menerima dalam suatu upacara di pesantren. Beliau kirim foto dan tanpa meminta ijin, beliau membuat spanduk dengan segala macam logo yang diperlihatkan saat presentasi. Ia kaget dan menegur namun dengan santai kyai menjawab “biar tambah keren pak, maaf ya” .
Di kota Ende melakukan sosialisasi diterima oleh Kapolres, para alim ulama dan upacara sangat resmi dan dilakukan di lapangan. Bagaimana ia bisa meyakinkan perlunya asuransi mikro didepan warga seperti penonton sepak bola, tetapi karena ia melihat bahwa semua itu adalah antusiasme dan kesempatan yang harus dimanfaatkan.
Saat ABG berkunjung ke Mexico , hari terakhir diundang kunjungan lapangan untuk melihat bagaimana masyarakat di sana memiliki asuransi mikro dengan mengunjungi komunitas. Ada komunitas ibu ibu yang setiap minggu berkumpul untuk berdiskusi tentang kegiatan seperti arisan. Mereka juga mendiskusikan program asuransi mikro yang mereka miliki, lalu membayar premi kepada agen yang datang dalam pertemuan tersebut. Pertemuan berlangsung di lingkungan peternakan kuda, sehingga kita bisa membayangkan kondisi tempat. Begitulah pola itu menjadi cara mereka mengenal asuransi mikro. Ia juga diajak ke suatu perusahaan asuransi dan mendengarkan testimoni pengguna asuransi mikro. Cukup menarik bahwa asuransi ini sesuai dengan kebutuhan mereka dan terjangkau. Ada juga cara mereka membayar preminya melalui warung yang punya alat pembayaran, seperti model laku pandai. Mexico memerlukan waktu sembilan tahun untuk meyakinkan bahwa asuransi mikro perlu untuk masyarakat.
Hal yang sama ia alami waktu ke Colombo, dibawa ke suatu kelompok masyarakat yang sudah begitu memahami perlunya asuransi mikro bagi kehidupan masyarakatnya dan kesetiaan perusahaan asuransi untuk mendampingi mereka. Sehingga komunitas tersebut percaya bahwa saat mereka mengalami musibah, mereka tidak akan dikecewakan. Kepercayaan yang telah dibina dengan ketekunan menghasilkan buah yang baik bagi masyarakat.
Saat ia di Lima, Peru, dibawa ke komunitas pedagang seperti halnya di daerah Tanah Abang. Mereka pedagang kecil yang berjualan berbagai macam keperluan dan sangat tertib dalam melaksanakan kewajiban. Manakala tiba waktu membayar premi untuk program asuransi mikro yang mereka miliki mereka percaya bahwa asuransi walaupun kecil nilainya tidak akan meninggalkan mereka saat mereka mengalami musibah. Di dalam acara tersebut ia juga dibawa ke suatu komunitas peternakan di luar kota Lima seperti padang gurun. Mereka mengembangkan peternakan ayam dan buruh puyuh. Mereka juga sangat mengandalkan petugas asuransi yang rajin mendampingi mereka baik dalam mengumpulkan premi maupun saat terjadi klaim. Relasi kepercayaan menjadi kunci berkembangnya asuransi mikro ini.
Pengalaman lain di Yangon, para pelaku industri mau belajar banyak bagaimana bisa mengembangkan asuransi mikro di negerinya dan mereka lihat bahwa komunitas keagamaan bisa menjadi komunitas yang akan menjadi sasaran untuk program mereka. Dalam salah satu kunjungan ke komunitas keagamaan di kota tersebut, ia mendengar bahwa mereka ingin mendapatkan program tersebut, namun belum ada yang mau mendatangi mereka. Kesempatan tersebut ia manfaatkan untuk menyampaikan kepada beberpa pelaku industri dan dalam komunikasi terakhir mereka sudah menemukan suatu program yang nampaknya sesuai dengan harapan komunitas itu dengan prinsip sederhana, mudah, terjangkau dan klaimnya cepat dibayar kalau terjadi peristiwa.
Di Lusaka menarik karena penduduk hanya 14 juta. Salah satu perusahaan asuransi kecil memiliki program asuransi mikro dan sudah memiliki polis sejumlah 1.4 juta . Kiat yang ia dapatkan dan lihat sendiri adalah ketekunan mereka untuk mencari produk yang tepat untuk kehidupan mereka. Produk tersebut adalah asuransi pemakaman, bagian kehidupan yang memerlukan biaya sehingga produk asuransi pemakaman menjadi menarik dan berkembang. Ia diajak ngobrol di stasiun bis dan angkutan antar kota. Ia bertemu dengan para sopir yang menjadi pemegang polis . Menarik bahwa dalam testimoni mereka adalah bahwa dengan asuransi pemakaman, ia bisa melaksanakan upacara pemakaman dengan kepantasan dan tidak perlu cemas karena memiliki Asuransi. Ia juga diberitahu bagaimana peran para ibu-ibu yang sangat berperan dalam menyampaikan pentingnya asuransi pemakaman yang terjangkau bagi masyarakatnya dan ia bertemu beberapa ibu yang dengan tulus meyakinkan warga agar mereka mau menyisihkan dana bulanan untuk asuransi pemakaman.
ABG mensyukuri nikmat semua itu . Di negeri orang berjuang agar mereka sadar perlunya perlindungan yang terjangkau, sebelum memiliki program perlindungan yang bukan mikro. Jembatan itu perlu dan saat terjadinya musibah dan klaim diselesaikan dengan cepat dan tepat menjadi program penyadaran yang tepat guna. Indonesia sangat berbeda dengan negeri negeri yang ia kunjungi. Indonesia begitu luas dan jumlah penduduk yang sangat besar. Ia juga memahami pemahaman masyarakat Indonesia tentang asuransi masih beragam. Tetapi kita tidak boleh berhenti. Ibaratnya air menetes di gua melalui stalagnit, tetes demi tetes membuat batu dibawahnya berlubang. Kesetiaan dan pantang menyerah walau apa yang diterima kecil menjadi suatu cara bahwa kemauan untuk mengeluarkan dana sebagai biaya untuk pengalihan risiko menjadi pola yang harus dipikirkan.
Dalam suatu pertemuan di Madura, seorang tokoh memberi pencerahan buat ABG dengan bentuk ungkapan yang sangat menyentuh . “Kalau kita mengalami kematian dari seorang warga, setiap kali kita akan memakamkannya, kita selalu meminta agar memaafkan almarhum atau almarhumah semasa hidupnya. Kalau ada urusan hutang piutang agar segera diselesaikan. Ini urusan duniawi yang perlu dipikirkan. Program ini harus menjadi program bela rasa, program berbagi, menyerahkan sejumlah uang, bukan untuk berjudi atau untung rugi, kita harus ikhlas, karena dengan menyerahkan dana tersebut, ia ingin meringankan beban mereka yang mengalami kesusahan di tempat lain yang mungkin tidak ia ketahui, Ikhlas dan tidak merasa kehilangan dana, karena dengan program itupun ia juga ingin tetap diberi umur panjang, tetapi ia ikut berbagi dengan mereka yang sedang kesusahan. Tidak ada istilah uang hangus atau hilang, kalau ada kesadaran berbagi dan berbela rasa”.
Terjun di dunia asuransi mikro ditengah masyarakat, ABG belajar langsung dari masyarakat dan menjadi kekayaan untuk menjelaskan lebih tepat guna arti asuransi pada umumnya dan asuransi mikro khususnya . Suatu cara untuk berbagi dan berbela rasa. Kalau semangat ini ditangkap oleh pelaku industry dan peserta asuransi ia yakin program perlindungan akan menjadi menarik.
Tiga dasawarsa penuh syukur
ABG yang mendapat pembinaan ketat dan disiplin di biara selama lebih dari lima belas tahun, akhirnya dicemplungkan dalam dunia asuransi , menjadi bagian hidup tak terpisahkan selama lebih dari tiga puluh tahun .
Duapuluh tahun ia jalani di asuransi pasar tradisional dan sejak 2011 hingga sekarang ia jalani dengan bergulat memperkenalkan dunia asuransi mikro bagi masyrakat. ABG sudah berkeliling dari desa ke kota di Indonesia, dan satu dasawarsa ia berkeliling dari kota ke kota di berbagai penjuru dunia. Memahami bagaimana masyarakat di negara lain perlu diyakinkan pentingnya asuransi mikro sebelum memiliki Asuransi konvensional yang canggih. Dunia pasar tradisional membawanya bertemu dengan masyarakat pedagang dan pembeli dan dunia asuransi mikro ia bertemu dengan berbagai tokoh yang memiliki komitmen untuk tidak menyerah memperkenalkan masyarakat perlunya perlindungan yang sederhana, murah, mudah dan cepat dalam penyelesaian claim.
Ia merasa hidup sebagai “pohon pisang” yang bisa hidup dan tumbuh dimanapun ia ditanam. Ia sudah mencoba dan menjalani sejenak dunia pendidikan yang telah mempersiapkannya sebagai seorang pelayan umat menjadi gembala. Bergulat menjadi guru dari berbagai tingkatan. Hidup ditengah pengungsi yang menderita, terbuang dari negeri asal dan terdampar, bersemai di ladang baru.
Menjadi kertas putih dengan perjalanan hidup menjadi tinta mengisi kertas putih dengan tulisan. Belajar, mendengarkan, memperhatikan orang lain dan berani melakukan karena mendapat pembinaan dasar yang baik dan benar menerapkan apa yang ia ketahui. Prinsip asuransi yang ia pelajari menjadi bagian dari hidupnya dan ia mengaliri hidup dengan prinsip prinsip hakiki yang ada sebagai pelayan dalam dunia asuransi. Kepercayaan harus dijaga, integritas harus menjadi kekuatan hidup dan akhirnya ABG menyakini dirinya bahwa rejeki yang diperoleh dari keringat akan menjadi daging yang meneguhkan.
Epilog
Tercenung melihat banyak pasar tradisional digusur dan dirombak menjadi pasar modern. Ada yang hilang dari keunikan pasar tradisional, pedagang dan pembeli yang beraneka perangai dan karakter serta aroma yang campur aduk. Menikmati makan di tengah kumuhnya lokasi, ocehan dan kadang-kadang perdebatan antar pedagang, tidak dijumpainya di pasar modern. Gerak langkah para penagih utang dari lapak ke lapak, sungguh menjadi pemandangan menarik. Memasuki pasar daging sungguh mengerikan melihat kelebat parang tajam dan kaos pedagang berlumuran darah . Melihat ulah pedagang nakal agar dagangannya menarik, belajar membedakan daging segar dan daging suntikan atau diawetkan dengan formalin.
ABG menikmati semua itu, dan setiap akhir pekan kadang tidak ia lewatkan untuk memasuki pasar, membeli ketupat sayur, atau sego pecel, atau jajan pasar.pizza jawa yang disebut gatot. Pasar di setiap daerah menyimpan keunikan makanan yang patut dinikmati.
Terima kasih kepada KARK yang membuat ABG menjadi begitu dekat dengan pasar. Tiidak terlupakan sewaktu ikut berjualan kain di pasar Giritontro, dengan menaiki truk terbuka sampai di pasar berteriak teriak menjual kain mengobral mulut berusaha menjual mahal betapapun murah harganya . Sungguh mengingatkan adagium bahasa latin pembeli harus berhati-hati, jangan sampai tertipu “caveat emptor”.
Ia juga berharap agar asuransi mikro konvensional maupun syariah jangan dipandang sebagai bisnis yang tidak menghasilkan untung, bisnis ecek ecek yang tidak menarik. Kelemahan yang ia jumpai bahwa pelaku asuransi terbiasa dengan bisnis yang berkaitan dengan perbankan, premi besar dan kurang berani menyapa masyarakat langsung dengan program asuransi yang sederhana, mudah, terjangkau dan pembayaran kaim cepat .
Bersyukur ada satu atau dua perusahaan yang bersedia terjun menggeluti bisnis ini. Bersyukur ada yang mau menjelajahi negeri untuk memperkenalkan proteksi yang terjangkau dan membuka mata bahwa asuransi menjadi payung yang tersedia sebelum hujan. Bersyukur dapat belajar dari mereka yang memiliki pandangan yang luas, bahwa asuransi mikro bukan mencari untung rugi, bukan permainan judi, tetapi membangun semangat bela rasa, semangat berbagi. Mengeluarkan dana, bukan mengharapkan suatu keuntungan semata, tetapi ia ingin berbagi, mungkin dengan dana yang sedikit ada orang lain yang akan menikmati dan menerima manfaat saat musibah terjadi. Ikut meringankan beban sesama yang mungkin tidak ia kenal. Semangat berbagi perlu ditumbuhkan.
Berterima kasih bahwa regulator bersedia bersusah susah menghidupkan dan mengembangkan program ini. Berharap agar regulator tidak pernah berhenti mengajak pelaku industri membuka diri melayani program ini . Regulator bersedia hadir dalam berbagai pertemuan internasional yang akan memberikan wawasan bagaimana negara lain yang sedang berkembang mengembangkan program asuransi buat kaum lemah . Kegiatan ini pada akhirnya akan membebaskan warga dari kemiskinan. Indonesia adalah pangsa pasar besar untuk program ini. Mexico, Srilangka, Peru, Zambia, Philipina dan negara berkembang lain berhasil dalam program asuransi mikro tidak dalam satu dua tahun, tetapi presistensi bertahun tahun dengan kehadiran negara untuk mendukung.
Bersyukur bahwa dengan dicemplungkan ke dunia perlindungan ini membuat dirinya juga tumbuh, belajar, menghormati dan ingin berbagi dengan orang lain. Pendidikan metodik dedaktik yang benar yang dipelajari di IKIP semakin meyakinkan dirinya bahwa menjadi guru bukan semata mata mencari kekayaan tetapi memiliki semangat semakin kita memberi (ilmu) semakin kitapun akan diperkaya (dalam ilmu). Jangan pernah kecewa karena kita berbagi pengetahuan kepada yang lain.
Terima kasih KUPASI, yang memaksa memberanikan diri membuat coretan ini. Apakah cocok untuk dimuat ABG tidak tahu. Dia bukan ahli menulis, bukan doktor dengan segala referensi. Baginya referensi adalah perjumpaan, diskusi, kumpul bersama , ngobrol dengan para senior, pelaku industri dan masyarakat pengguna asuransi. Selamat ulang tahun KUPASI yang keenam, semoga semakin banyak tokoh mau berbagi karya yang tertuang dalam tulisan. God Bless You All ( Habis )