Back

Iran (Persia), Ternyata!

Pengalaman 4 hari berada di Iran

Oleh: Wahyudin Rahman

Awal Desember lalu, saya tak menyangka bisa ke negeri yang dahulunya penyembah api sebelum datangnya Islam. Memang, kesempatan tak datang dua kali, dan kebetulan juga magister saya dahulu mengambil kajian Timur Tengah. Alhamdulillah, masuk nominasi top paper ilmiah global yang diadakan oleh Iranian Insurance Research Center (IIRC).

Dari 526 artikel yang dikirimkan ke sekretariat IIRC dari dalam dan luar negeri, 60 artikel dalam dan luar negeri masuk bagian presentasi, 60 artikel untuk diterbitkan dalam buku. Sementara dari Indonesia yang mengirimkan paper hanya 6 orang melalui Islamic Insurance Society (IIS) dan beberapa orang secara probono dari berbagai universitas di Indonesia. Infonya, mereka telah berkunjung dan silaturahmi ke beberapa asosiasi asuransi di Indonesia.

Iran tak seperti Arab Saudi, Qatar, Kuwait atau UAE yang banyak turis dan mudah dalam melakukan berbagai berbagai transaksi perdagangan termasuk digital payment. Bisa dikatakan negara ini tidak semaju negara sekitar karena harus membawa uang cash untuk transaksi dan kebingungan dengan dua mata uang resmi (riyal) dan non resmi (toman). Ini terjadi sejak terkena embargo dari Amerika dan sekutunya karena dicurigai melakukan pengembangan nuklir sejak 1980.

Akan tetapi secara geografis, Iran bisa dikatakan begitu Indah. Negara yang luas sebesar 1.6 juta/km2, hampir mendekati Indonesia sebesar 1.9 juta/km2, didominasi oleh barisan gunung yang kasar atau dataran tinggi yang beragam. Bagian barat yang memiliki populasi terbanyak adalah bagian yang paling bergunung, dengan jajaran gunung seperti Pegunungan Kaukasus, Pegunungan Zagros, dan Alborz. Pegunungan Alborz merupakan tempat dimana terdapat titik tertinggi Iran. Sebelah timur terdiri dari gurun dan dataran rendah yang tak dihuni seperti Dasht-e Kavir yang mengandung mineral garam, dengan danau garam.

Perjalanan ke Iran ditempuh sekitar 9 – 10 jam termasuk transit di Doha, Qatar. Dari Doha ke Tehran sekitar 2 jam. Jika dilihat memang sangat jarang turis yang berkunjung ke sana. Kami sempat mengabadikan bandara Imam Koemini untuk kedatangan internasional yang sepi. Sesampainya di kota Tehran yang sedang musim dingin, suhu pada pagi hari mencapai 6 derajat celcius, apalagi hotel kami singgah dekat dengan pegunungan Alborz.

Kegiatan disana lebih banyak dihabiskan untuk menghadiri acara utama 11th International dan 30th National Conference dengan jadwal yang padat dan animo yang tinggi. Terlihat, dihadiri para menteri, praktisi, akademisi, peneliti dan ribuan orang lainnya. Ini juga bertepatan dengan hari asuransi nasional Iran. Selain itu, mendatangkan perwakilan negara lain dengan total 25 orang yakni Turki, Pakistan, Malaysia, Qatar dan UK sampai 10 hari. Malaysia menjadi yang terbanyak mengirimkan 8 author.

Acara juga tidak hanya konferensi namun ada forum diskusi, lokakarya, signing kerjasama, kunjungan ke Universitas dan tentunya Tour of City. Ini menandakan bahwa dukungan Pemerintahnya sangat besar. Lalu bagaimana dengan dukungan Pemerintah Indonesia terhadap perasuransian, masih setengah hati?

Selanjutnya, apa sih yang menarik dari Iran? tentunya terdapat keindahan artistik masjid dan kota yang klasik dengan kendaraan paling banyak berjenis sedan tahun 90-an serta juga keramahan para warganya. Warga banyak mengatakan “welcome dan enjoy brother”. Mereka antusias sekali dengan orang asing. Mereka ingin berucap bahwa Iran tidak seperti yang dibayangkan dunia luar. Tempat wisata di Tehran dan kota Istifan dan Shiraz juga sangat Indah yang menampilkan gunung -gunung dan gurun-gurun yang berjejer. Namun, sayang kalau ini saya tak sempat berkunjung dan hanya diceritakan juga karena keterbatasan waktu dan harus kembali ke Indonesia.

Di sisi lain, para kaum terpelajar di Iran sangat profesional, mereka hanya berbicara sesuai konteks pekerjaan dan bidangnya saja serta bertukar informasi publikasi, budaya, makanan, perjalanan, dan tentunya perkembangan asuransi kedua Negara. Bicara aliran atau agama? Tentunya tidak. Berdasarkan pembicaraan dengan Dr. Vahid Roomi (Mathematic Researcher) yang menjemput kami dan Dr. Umar Alhadad (DPS), biasanya kaum profesional dan jajaran pemerintahan disana lebih moderat bukan ekstrimis yang dikenal dan ditonjolkan di Indonesia dan dunia. Merekapun sangat kesulitan mengendalikan aliran ekstrimis yang mengebu-gebu ini.

Lalu, apa ada kesulitan selama di Iran? Saya catat hanya dua kendala. Pertama, Bahasa. Mayoritas warga Iran tidak bisa berbahasa Inggris hanya kalangan terpelajar dan Pemerintah saja serta juta setiap identitas termasuk penunjuk jalan seluruhnya berbahasa parsi. Solusi siapkan transtool saja kalau naik transportasi disana.

Kedua, mata uang. Awalnya memang agak sulit membedakan riyal dan toman. Perbedaan penyebutan jadi masalah seperti 1 toman itu sama dengan 10 riyal. Jadi kalau ada 1 juta riyal maka 100 ribu toman dan tertulis hanya 100 toman. 3 angka 0-nya (ribu) tidak disebut.

Diluar kendala diatas, lancar jaya saja.

Jadi, Iran yang kita kenal, itu beda. Mereka akan sangat senang jika ada yang berwisata, bekerja dan investasi disana.

Bagaimana, apakah tertarik ke Iran? Pastinya, kita akan melihat orang Iran seperti Reza Rahardian dan Nabilah Syakieb setiap hari.

Oh iya, bagi yang mau ke Iran tidak perlu khawatir ada cap pada paspor dari imigrasi. Tenang saja, tidak dicap kok, pihak kedutaan besar Iran di Indonesia dan KBRI di Tehran juga sangat bersahabat dan komunikatif.

Wahyudin Rahman
Wahyudin Rahman

Leave a Reply