PANDEMI COVID-19 yang telah berlangsung beberapa bulan memaksa banyak orang di seluruh dunia untuk mengubah cara hidup mereka. Perubahan itu besar kemungkinan akan terus berlanjut setelah pandemi selesai. Beberapa waktu ini kita mulai terbiasa untuk menyelenggarakan pertemuan, rapat dan ceramah melalui saluran aplikasi daring, berbelanja kebutuhan pokok di pasar dengan jaringan sosial media. Perubahan besar juga terjadi di lingkungan pemerintahan dan kegiatan bisnis, orang bekerja dari rumah, penyelenggaraan pemerintahan dan negara berjalan dengan menggunakan teknologi konferensi jarak jauh. Tidak kurang kegiatan dan agenda politik mengalami perubahan jadwal dan prioritas. Kegiatan ibadah keagamaan di mesjid dan mushola telah sebulan lebih mengalami penghentian dan ketika bulan suci Ramadhan tiba kita mengalami untuk pertama kali kehilangan semarak Ramadhan dengan tadarus tarawih di masjid surau dan mushola dengan larangan berkerumun dan anjuran menjaga jarak (physical distancing).
Di sisi lain kita menyaksikan relasi kekeluargaan anak dengan orang tua yang lebih dekat dengan belajar dan bekerja di rumah. Lalu lalang kendaraan di jalan yang jauh lebih lengang, langit di kota-kota besar sekarang lebih biru karena polusi menurun drastis. Solidaritas sosial dan gotong-royong semakin menguat untuk menolong mereka yang paling terkena dampak penghentian sebagian besar aktivitas ekonomi.
Sejumlah negara di dunia dengan berbagai cara masing-masing telah melakukan langkah-langkah untuk mencegah penyebaran virus corona baru COVID-19 yang telah menjangkiti tidak kurang dari 217 negara di dunia. Virus corona baru COVID-19 yang bermula di Wuhan China bulan Desember 2019 telah menyebar ke seluruh dunia dalam waktu sangat cepat dan eksponensial.
Di Indonesia ketika korban positif COVID-19 pertama kali diumumkan sejumlah 2 orang pada 2 Maret 2020 kini telah mencapai 17,025 orang terkonfirmasi positif COVID-19 dengan jumlah pasien sembuh sebanyak 3911 orang dan meninggal 1089 orang tersebar di 34 provinsi, 386 kabupaten/kota (update data www.covid19.go .id 16 Mei 2020 pukul 12.00). Meningkat ribuan kali lebih hanya dalam waktu dua setengah bulan.
Menilik ke belakang ketika wabah virus SARS terjadi 2003 ketika itu ekonomi China menyumbang 4 persen output ekonomi global. Namun dengan sumbangan ekonomi China kini sebesar 16 persen ekonomi global maka apapun yang terjadi dengan China akan sangat berpengaruh pada ekonomi dunia keseluruhan.
Bila China dapat melakukan isolasi dan penutupan kota (lock down) secara total disertai disiplin tinggi warganya tidak lain karena didukung oleh tingkat ekonomi yang kuat. Tidak demikian dengan beberapa negara yang gagal melalukan lock down hingga menimbulkan kerusuhan sosial seperti halnya India.
Virus yang menyebar ke seluruh dunia ini telah melahirkan krisis yang melanda seluruh dunia. Disebut sebut krisis ini disetarakan dengan The Great Depression yang melanda dunia tahun 1930 an. Dalam kurun 20 tahun terakhir krisis ini disetarakan dengan krisis yang ditimbulkan oleh serangan World Trade Centre AS 9 November 2001 dan keruntuhan Lehman Brothers yang menandai krisis keuangan dunia yang dipicu oleh krisis subprime mortgage AS tahun 2008. Pandemi serupa hanya dapat disejajarkan dengan pandemi flu Spanyol yang merebak pada1918. Hampir tak ada negara yang luput, termasuk Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda.
Pandemi COVID-19 ini telah menimbulkan disrupsi pada skala dunia setidaknya pada empat pilar, yakni disrupsi kemanusiaan (kesehatan, keamanan dan ibadah keagamaan), rantai pasok, produksi, konsumsi dan segera nampak krisis keuangan dunia. JP Morgan memprediksi ekonomi dunia minus 1,1%, EIU memprediksi minus 2,2%, Fitch mengestmisasi minus 1,9%, IMF memproyeksi jatuh dan minus 3%. Bahkan, negeri Tirai Bambu alias Cina negatif 6% dan dunia negatif 3%.
Bagi Indonesia membandingkan dengan krisis moneter yang dialami pada tahun 1997-1998 bersama dua negara lain yakni Thailand dan Malaysia dengan bantuan blanket guarantee IMF, maka krisis yang terjadi akibat Pandemi COVID-19 ini dialami oleh hampir seluruh negara di dunia dan tidak ada satu pun negara atau lembaga di dunia yang secara sendiri dapat membantu seluruh negara di dunia.
Kecepatan globalisasi yang telah berlangsung selama kurang lebih dua puluh lima tahun terakhir telah menyebabkan sebagian besar penduduk dunia jauh tertinggal. Ketimpangan global terjadi dimana 20 persen penduduk menikmati 83 persen ekonomi dunia sedangkan lapisan penduduk termiskin hanya mendapatkan 1 persen. Ketimpangan semakin meningkat dengan laporan 75 persen penduduk dunia tinggal di dalam masyarakat dengan distribusi pendapatan yang kurang berimbang dibanding tahun 1990 an meskipun PDB dunia telah meningkat dari USDollar 22 triliun menjadi USDollar 72 triliun. Oxfam mencatat bahwa pada tahun 2019, 2.153 orang paling kaya di dunia yang umumnya ada di negera-negara kaya lebih besar kekayaannya daripada 60% penduduk dunia paling miskin yang umumnya ada di negara-negara miskin.
Sementara, di Indonesia sendiri menurut Credit Suisse (2018), 1% orang terkaya menguasai 46,6% kekayaan nasional dan 10% orang terkaya menguasai 75,3% kekayaan nasional.
Ke depan dunia pasca pandemi akan menyaksikan arus deglobalisasi sebagai koreksi terhadap proses globalisasi yang mengandung ketidakadilan dalam hubungan negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang maupun antar golongan kaya dan miskin di internal negara-negara. Ide deglobalisasi merupakan kebutuhan dari setiap negara untuk memperbaiki format pembangunan yang lebih berkeadilan.
Reorientasi ulang perekonomian domestik dari yang menekankan produksi untuk expor ke produksi untuk pasar lokal.
Narasi besar setelah pandemi COVID-19 adalah “The Other Kind of Globalization” sebagai respon deglobalisasi dalam wujud New Reality.
Dunia akan lebih mengedepankan active state, berbasis religuisitas dan spiritualitas.
Perekonomian dunia yang lebih people driven dan human invesment daripada artificial consumption driven ala MNC dalam perekonomian di tingkat global maupun nasional. Dunia akan menyaksikan hubungan spiritual vertikal lebih dari hubungan sosial horizontal. Yuswohady (Mei, 2020) menyebutnya sebagai #12. More Suffering, More Religious satu di antara 12 perilaku konsumen di kenormalan baru.
Saat perubahan dunia berlanjut pasca pandemi dunia tetap menyaksikan persaingan AS-China di berbagai bidang. Proteksionisme seperti semboyan America First Donald Trump atau populisme ala Brexit Inggris tidak serta merta surut, namun diharapkan akan muncul kepemimpinan dunia yang lebih humanis dan berkeadilan. Dunia membutuhkan restrukturisasi kelembagaan internasional dan nasional yang menjamin kemerdekaan, keadilan sosial dan perdamaian abadi.
Work From Home (WFH )
Dengan refleksi di atas Work From Home yang bagi penulis merupakan kenormalan yang sudah berlangsung lama, tetap saja memberikan arti tersendiri dan terdorong untuk memberikan makna baru.
Berselang satu pekan Work From Home penulis menggagas aksi filantropis peduli COVID-19. Menggalang donasi untuk biaya pulsa internet mahasiswa STMA Trisakti selama belajar di rumah secara daring.
Aksi menggunakan wadah KUPASI dengan menggunakan jaringan sosial media dan rekening setoran STMA Trisakti. Pertama kali gagasan dicetuskan terbentur tenaga karena seluruh pengurus masih aktif bekerja di perusahaan masing-masing di tengah kesibukan menyesuaikan diri dengan WFH yang baru pertama kali dialami. Penulis mengambil alih kendali aksi donasi dengan memviralkan aksi tersebut ke berbagai sosial media maupun japri. Berjalan dari tanggal 20 Maret hingga 10 April 2020 aksi ditutup dengan jumlah donasi terkumpul sejumlah Rp 34.671.043 berasal dari sejumlah individu dan korporasi. Dengan hasil dua kali lipat lebih besar dari target semula Rp 15 juta, donasi yang semula direncanakan disalurkan kepada 30 orang mahasiswa akhirnya disalurkan kepada 429 orang mahasiswa penerima bantuan dalam 4 tahap sejak 1 April 2020 hingga 31 Juli 2020 dengan besar bantuan Rp 100.000/bulan. Acara penyerahan simbolis hasil donasi dilakukan secara daring melalui aplikasi Zoom (15/4 /2020) platform daring yang tengah populer saat ini. Tidak kurang dramatis seperti acara seremonial umumnya penyerahan donasi lengkap dipandu oleh petugas MC disertai sambutan mewakili Yayasan Trisakti, Ketua STMA Trisakti, Ketua BEM STMA Trisakti, Pendiri dan Ketua Umum KUPASI.
Selesai dengan aksi donasi, masih diliputi kegelisahan untuk mengisi WFH, penulis menggagas kegiatan menulis buku dengan tema besar pandemi corona. Bersama Prof Dr. Didin S Damanhuri, Dr Tauhid Ahmad serta Rusli Abdullah sekitar 3 pekan tiap hari WFH kami menyiapkan sebuah buku bertajuk “PANDEMI CORONA: VIRUS DEGLOBALISASI : Masa Depan Perekonomian Global dan Nasional”. Buku berupa kumpulan pemikiran sejumlah ekonom (a.l Chatib Basri, Enny Sri Hartati ), ahli politik (a.l Yudi Latif, J. Kristiadi), budayawan (a.l Yasraf Piliang) dilengkapi dengan Outlook masa depan perekonomian global dan nasional serta Epilog berisi perbandingan stimulus ekonomi menghadapi pandemi di berbagai negara. Buku berisi 42 tulisan oleh 37 penulis sekitar 350 halaman dalam format e-book dan cetak dengan Sambutan oleh Wakil Presiden RI, Gubernur BI , Ketua PMI dan Ketua BNPB diterbitkan oleh INDEF (Institut for Development of Economics and Finance).
Menyatukan puluhan tulisan yang tersebar di berbagai penerbitan menjadi sebuah buku yang komprehensif bukan perkara mudah. Kegagalan memadukan beragam gagasan mengenai suatu ide besar akan menjadikan orang yang membacanya diajak untuk melompat dari satu ide ke ide yang lainnya, tanpa berhasil menarik benang merah dari ide besar tersebut. Dengan kerja keras dan dorongan kuat menghasilkan legacy bagi kemanusiaan kami berhasil memadukannya menjadi sebuah buku yang menggambarkan dinamika perjuangan seluruh bangsa bangsa di dunia mengatasi pandemi Covid-19 secara holistik dari berbagai dimensi.
Buku diharapkan menjadi sumbangsih bagi upaya untuk mengatasi pandemi COVID-19 dengan berbagai respons kebijakan pemerintah dan dunia usaha yang dibutuhkan masyarakat bangsa dan negara.
Berdamai dengan pandemi menjadi keniscayaan dengan menghasilkan karya nyata bagi masa depan peradaban ketika jalan perang tidak kunjung berbuah kepastian.
(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis 2020” dari para Kupasian dalam merespons Pandemi Covid-19)