Sudah sering kita dengar bahwa saat ini adalah era industri 4.0 dimana kekuatan teknologi menjadi motor kemajuan sosial ekonomi di dunia. Datangnya wabah pandemi Covid-19 yang menerpa dunia seolah mengkonfirmasi pentingnya teknologi dalam sendi kehidupan manusia saat ini.
Kehidupan sosial ekonomi masyarakat dipaksa menyesuaikan untuk berdampingan dengan keberadaan virus korona baru. Sebagaimana kita ketahui, sampai saat ini masih banyak yang belum diketahui dan setiap hari ditemukan hal-hal baru mengenai penyakit Covid-19 ini. Protokol kesehatan yang direkomendasikan oleh lembaga kesehatan dunia pun terus berkembang guna memutus mata rantai penyebaran penyakit ini. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, juga telah mengeluarkan beberapa kebijakan bersifat sosial ekonomi guna menanggulangi penyebaran serta mengurangi dampak pandemi ini.
Bagi perusahaan-perusahaan, pandemi ini merupakan suatu kejadian krisis yang dapat mempengaruhi kelanjutan perusahaan. Lalu pertanyaannya apakah yang harus dilakukan oleh perusahaan dalam menghadapi pandemi ini?
Dalam setiap krisis, perusahaan harus selalu menempatkan kesehatan dan keselamatan jiwa karyawan sebagai prioritas utama. Perusahaan perlu melakukan tindakan apapun untuk memastikan kesehatan dan keselamatan karyawannya terjamin. Lalu selanjutnya perusahaan harus memikirkan apa yang harus dipersiapkan dan dilakukan untuk menjamin kelangsungan perusahaan selama masa krisis dan setelah pandemi ini berakhir.
Adal hal-hal yang secara umum perlu dilakukan oleh manajemen perusahaan untuk memastikan kelangsungan hidup perusahaan dalam melalui masa sulit ini.
McKinsey and Company membagi apa yang harus dipikirkan dan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dalam menghadapi krisis ini menjadi 5 horizon bagian: 1) Resolve, 2) Resilience, 3) Return, 4) Reimagination, dan 5) Reform.
Dalam konteks perusahaan asuransi di Indonesia, pandangan perencanaan mungkin akan berbeda, terlebih lagi industri asuransi merupakan industri yang sangat diatur oleh pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Perusahaan asuransi harusmelakukan penyelesaikan masalah yang mendesak dengan mematuhi himbauan pemerintah daerah untuk mengikuti protokol kesehatan dalam penanggulangan penyebaran Covid-19, memberi kemudahan dalam pelayanan kepada nasabah dan rekanan. Anjuran pemerintah untuk bekerja dari rumah dilakukan dengan menggunakan teknologi yang ada dan didistribusikan kepada karyawan yang dianggap perlu dan memungkinkan untuk kerja dari rumah. Di sisi lain perusahaan asuransi juga telah memperoleh beberapa relaksasi dari OJK dalam hal keleluasaan dalam pelaporan dengan dimundurkannya tenggat waktu pelaporan ke OJK.
Strategi Bertahan
Perlu dipahami, semua yang dilakukan perusahaan dalam menyelesaiakan masalah di atas tidak serta merta menyelesaikan masalah yang ada.
Perusahaan harus menyiapkan strategi untuk bertahan dalam menghadapi masa depan usaha yang tidak pasti, ditandai penurunan pemasukan yang terus terjadi akibat menurunnya dunia usaha dan daya beli masyarakat. Perusahaan juga menghadapi peningkatan biaya untuk memenuhi kewajiban protokol kesehatan dengan menyediakan alat-alat kesehatan seperti masker, cairan sanitasi dan sebagainya.
Perusahaan perlu memperketat kesesuaian aliran dana perusahaan, menunda pengeluaran yang tidak terlalu mendesak seperti renovasi kantor, peremajaan kendaraan kantor serta meningkatkan upaya penagihan atas outstanding premi dan recovery klaim agar perusahaan dapat membayar seluruh kewajibannya dengan tepat waktu. Hal ini menjadi sangat penting karena perusahaan asuransi merupakan industri kepercayaan dimana reputasi perusahaan adalah sangat penting.
Investasi di bidang teknologi juga perlu dipertimbangkan untuk menjamin kelancaran usaha dan pelayanan terhadap nasabah serta untuk menjamin keamanan data nasabah dan transaksi perusahaan. Perusahaan perlu memikirkan kemungkin tatacara bekerja di rumah yang lebih permanen sehingga produktifitas karyawan tetap berada di tingkat yang sesuai harapan.
Setelah perusahaan memiliki rencana atau strategi bertahan yang dapat dijalankan dan dipandang cukup efektif untuk mempertahankan kelangsungan perusahaan, pengurus perusahaan diharapkan dapat menyiapkan rencana kerja untuk mengembalikan posisi perusahaan pada era kenormalan baru yang lebih baik. Perusahaan asuransi harus meninjau ulang strategi bisnis yang ada yang tidak dapat dilanjutkan, mana yang bisa dilanjutkan dan mana yang bisa ditingkatkan dengan menyesuaikan terhadap kondisi yang ada. Evaluasi menggunakan metode SWOT dapat digunakan untuk mengukur optimalisasi pencapaian peluang usaha dengan sumberdaya yang ada.
Perusahaan asuransi perlu berimajinasi kembali sambil membayangkan seperti apakah Kenormalan Baru yang lebih baik itu? Hal-hal baru apa yang perlu diciptakan, inovasi apa yang harus dkembangkan untuk membuat operasional perusahaan menjadi lebih tangguh terhadap perubahan. Perubahan produk asuransi apa yang akan banyak dibutuhkan, dan saluran distribusi apa yang cocok untuk era tersebut.
Terakhir yang tidak kalah penting dalam membangun ulang, perusahaan asuransi harus memperhatikan semua aspek eksternal yang sangat mempengaruhi lingkungan usaha di masa depan seperti teknologi, peraturan, protokol kesehatan, keamanan dan lain sebagainya.
Tantangan Normal Baru
Kembali kepada era industri 4.0 dimana teknologi menjadi kekuatan dalam berusaha, kondisi pandemi Covid-19 telah memperjelas bahwa dunia usaha masa depan akan akan lebih banyak dilakukan secara jarak jauh dengan sedikit interaksi manusia.
Bagi perusahaan asuransi khususnya yang melayani korporasi bukan retail, hal ini menjadi suatu tantangan yang menarik dimana penutupan asuransi biasanya bersifat taylor made yang dirancang khusus untuk kebutuhan nasabah dan tidak sama satu dengan lainnya. Begitu juga pricing-nya otomatis bersifat khusus dan tidak standar. Akan tetapi untuk perusahaan yang menjual produk asuransi standar mungkin dapat dengan mudah menggunakan saluran distribusi digital untuk menyasar kaum milenial dengan produk-produk yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka.
Digitalisasi administrasi dan proses pembagian alur kerja akan sangat bermanfaat digunakan untuk menggantikan keharusan bekerja dari kantor. Para karyawan dapat bekerja dari mana saja seperti dari rumah, kantor cabang terdekat atau dari coworking space atau dimana saja selama tersedianya sambungan internet.
Digitalisasi administrasi secara signifikan akan mengurang ratio turn over (RTO) dokumen dan penumpukan pekerjaan pada karyawan-karyawan tertentu dengan didistribusikannya pekerjaan secara merata. Karyawan juga tidak perlu memilih nasabah mana yang akan dilayani sehingga level kualitas pelayanan nasabah pun akan lebih merata.
Interkoneksi system menjadi sangat penting untuk memastikan konsistensi dan integritas data. Proses yang duplikasi dapat dihilangkan, kesalahan data dapat dikurangi, dan kecepatan proses kerja dapat ditingkatkan.
Lalu apakah digitalisasi akan otomatis mengurangi kebutuhan akan jumlah karyawan? Jawabannya bisa ya tapi juga bisa tidak, tergantung kepada sejauh mana duplikasi pekerjaan yang selama ini ada. Untuk perusahaan asuransi yang sudah menerapkan proses yang streameline, digitalisasi akan mempercepat proses saja. Tetapi pada perusahaan asuransi yang banyak terdapat duplikasi perkerjaan, digitalisasi akan memberi keleluasaan bagi perusahaan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang ada untuk pekerjaan yang lebih penting.
Mengapa kita harus mempersiapkan perusahaan agar lebih tangguh dan dapat berkembang secara berkelanjutan dalam Normal Baru yang lebih baik?
Sebagian dari masyarakat masih berpendapat kalau pandemi Covid-19 akan menghilang dengan sendirinya sebagaimana kemunculannya yang tiba-tiba. Pandangan tersebut dapat dikatakan naif, karena pandemi Covid-19 bukanlah kejadian pandemik yang pertama dunia ini, pernah ada pandemik Flu Spanyol 100 tahun yang lalu, lalu ada MERS dan SARS dan kemungkinan besar pandemi global Covid-19 adalah bukan yang terakhir. Sudah selayaknya pasca pandemi Covid-19 berlalu sosial ekonomi masyarakat bergerak maju dalam keadaan normal yang lebih baik dalam mencegah terjadinya pandemik lain atau pun dalam menghadapinya, baik secara kesehatan maupun menyangkut perekonomian.