Back

Merokok dan Asuransi

BALIGE, sebuah kota kecil di tepi Danau Toba. Rumah kami toko sepatu, tepat di seberang balairung pasar. Setiap Jumat adalah hari pekan. Di samping rumah kami selalu hadir penjual tembakau berikut daun kawung atau aren kering sebagai pelintingnya. Kami sebut pusuk, sudah dipotong rapi seukuran panjang rokok. 

Kami sering minta sedikit pusuk untuk iseng belajar merokok di belakang rumah bersama teman sesama anak-anak. Mulut panas serasa terbakar. Dada pun serasa akan meledak terbatuk-batuk ketika asap terhirup masuk paru-paru. 

Saat remaja SMP di Balige, saya mulai belajar merokok dengan teman-teman sekolah. Padahal merokok adalah bencana besar jika ketahuan oleh guru, terlebih orang tua. Karena itu kami tak berani merokok jika di sekitar diperkirakan ada yang mengenal. Celaka kalau sampai ada yang memberi tahu orang tua. Padahal Balige itu kota kecil dan rumah kami ada di depan pasar, pusat keramaian. Rasanya semua penghuninya saling kenal. 

Pernah kami anak laki sekelas, hampir semua kompak membolos. Kami mengumpulkan uang untuk membeli sebungkus rokok termurah di kantin dekat sekolah. Tak sampai satu kilo meter di belakang kantin, ada bukit. Hanya berjarak sejurang setelah lapangan sepak bola dan hamparan rumput penggembalaan kerbau. Kami rencanakan untuk belajar merokok sepuasnya di bukit itu. Sepi. Aman. 

Sejak dari lapangan sepak bola kami sudah merokok. Asap rokok kami mengepul-ngepul. Si Jannus yang terpandai merokok, bisa melingkar-lingkar asap dari mulutnya. Tiba di seberang jurang, rokok di tangan sudah habis.

Duduk istirahat di punggung bukit, sambil menatap indahnya Danau Toba, merokok pula, oooo, asyik sekali! Di bawah sana tampak bus Sanggul Mas berkelok-kelok turun dari ketinggian kota Siborong-borong ke arah Balige. Bunyi tuternya menyanyikan lagu Tetty Kadi yang populer ketika itu:   ♫  kunyanyikan lagu untukmu, lagu senandung rindu …!

Rokok dibagi lagi masing-masing sebatang. Tetapi astaga, sial benar! Tak ada yang punya korek api. Memang, mana ada yang berani menyimpan korek api. Bagi Omak, itu berarti merokok. Bisa runyam urusannya. 

Semua saling menyalahkan, saling tanya siapa tadi terakhir membuang punting rokok dan di mana. Kami turun lagi menyusur jalan. Ada yang menemukan. tetapi sudah diinjak mati. Tentu saja dimatikan, kami tahu risiko membuang puntung rokok menyala sembarangan. Bukit ini bisa ludas terbakar.  

Hari itu kami gagal belajar merokok. Turun dari bukit sambil uring-uringan saling menyalahkan mengapa tak ada yang ingat beli korek api. Besoknya ‘disetrap’ Pak Sianipar wakil kepala sekolah. Ujung jari tangan disatukan lalu dipukul dengan rotan. Dijemur pula di lapangan, semua orang menonton.

Suatu malam, bersama si Usman anak tetangga dan sekelas pula, saya ingin merokok. Tetapi kami saling mengelak ketika akan membeli rokok. Alasannya sama, “Parkaresek (pedagang rokok) itu kenal bapakku!” 

Akhirnya dengan berkerudung sarung penahan dingin, jadilah beli rokok. Saking ketakutan, kami tak berani pinjam korek api. Sambil saling menyalahkan kembali, kami keliling mencari orang merokok di jalan. Menunggu kapan dia buang puntung rokoknya. Sia-sia. Selalu orang menginjak puntung rokoknya setelah dibuang di jalan. Akhirnya saya nekad, mencegat orang di jalan gelap dan minta sulut api rokoknya. Tangan gemetar, takut dia mengenali kami berdua.

Usai SMA, saya ke Jakarta. Tahun 1972 lulus ujian masuk Departeman Keuangan. Gajian! Oooo, kupuaskan merokok. Tahun 1973 saya menjadi pengarang pula. Sehari bisa menghabiskan sebungkus rokok kretek dan dua bungkus rokok ‘putih’ non kretek. Tiga bungkus!

Suatu ketika, 23 Juni 1976, saya kerja dan nyambi kuliah malam ketika itu.  Sambil fokus mengetik novel pertamaku, tangan meraih sebatang rokok dan siap ke mulut. Ternyata di bibir saya masih terselip rokok lain. Astaga! Kau diperbudak rokok!

Saat itu juga saya putuskan berhenti merokok. Sisa rokok saya buang. Benar, sejak itu saya bisa menghentikan merokok secara spontan. Caranya? Saya beritahu semua orang bahwa saya sudah tak merokok. Termasuk ke calon pacar. Manjur! Takut malu.

Tahun 1993, karena sering jumpa orang merokok dalam pekerjaan, saya ikut-ikutan lagi merokok meski tak menghisap sampai dalam. Ditiup-tiupkan saja. Namun bisa ketagihan juga. Tahun 1996, saya ditugaskan di Lampung. Ketika itu nilai tukar USD adalah Rp. 2.200. Sama dengan harga sebungkus rokok kretek kebiasaanku. Kukalikan dua bungkus sehari dan kutambahkan 15 bungkus ekstra. Kuhitung 75 bungkus sebulan, sama dengan USD 75. Saya mengambil asuransi dengan premi setara nilai itu. Untuk bayar premi, saya hentikan merokok. 

Tahu-tahu nilai tukar dollar meroket naik saat krisis ekonomi 1997/1998. Nilai tukar USD meningkat dari Rp 2.500 menjadi Rp 16.000.  Asuransi saya hentikan saja, tak mampu lagi membayar premi. 

Tahun 2000-2002, saat bertugas di Bali, beberapa staf terdekat merokok. Saya jadi sering iseng meminta rokok mereka. Lama-lama beli sendiri. Ketagihan lagi, hingga sedikitnya dua bungkus rokok ‘mild’ sehari. Harga rokok saya Rp. 5.500 sebungkus. 

Suatu siang ada petugas asuransi datang ke ruangan saya. Dia tawarkan asuransi dan kita sendiri bebas menentukan berapa preminya. Sebagian menjadi jaminan pertanggungan, sisanya menjadi tabungan. Kepalang tanggung, hitungan rokok saya bulatkan seratus bungkus perbulan. Saya teken asuransi itu. Lalu saya benar-benar berhenti merokok.  

Benar, 10 tahun berlalu, saya sudah pensiun. Anakku sibungsu Norman lulus test masuk UNPAD Bandung. Meski perguruan tinggi negeri, perlu juga uang. Selain untuk pendaftaran dan sumbangan pembangunan, juga untuk keperluan tempat kos dan lain-lain. Tak ada kuatir. Bagian dari tabungan asuransi saya cairkan dan saya gunakan untuk kuliah anakku. 

Usai kuliah hampir 4 tahun di UNPAD, dia bekerja. Sekarang sudah S2 dari Universitas Indonesia, dengan biaya kuliah yang ditanggungnya sendiri. 

Benar-benar saya rasakan, kuantar anakku kuliah dengan uang rokok! Tak butuh kerja ekstra cari uang, hanya dengan menghentikan merokok dan menukarnya dengan premi asuransi.***

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis Asuransi” dalam rangka Hari Asuransi 2022)

Saut Poltak Tambunan
Saut Poltak Tambunan
Saut Poltak Tambunan (SPT), 70 tahun, pernah menjadi Pegawai Kemenkeu dan bertugas di berbagai kota. Pernah menjadi Staff Khusus Redaksi Majalah KARTINI, editor, kolumnis tetap pada beberapa majalah, Dosen Akuntansi/Ekonomi Perbankan pada AMI dan ASMI. Tetapi sejak 1973 tetap konsisten bergiat dalam penulisan. SPT sudah menghasilkan lebih dari 60 buku (novel, kumpulan cerpen, puisi dll). Sebagian novelnya diangkar ke film/sinetron. Selain itu 4 bukunya sudah dijadikan ‘audio book’ untuk keperluan tunanetra. Merasa terpanggil untuk melestarikan bahasa daerah, sejak bulan Maret 2012 merintis jalan sunyi sastra berbahasa daerah Batak. Kali ini SPT tertantang pula untuk mengabadikan ke dalam buku, permainan kanak-kanak yang dilakoninya semasa kecil di Balige, kota kecil di tepi Danau Toba. Pada Maret 2022 tepat 10 tahun SPT berkarya dalam Bahasa Batak. Dalam rentang waktu itu SPT menghasilkan 3 kumpulan cerpen, 2 buku puisi, 6 novel, termasuk 5 novel (pentalogi), 3 antologi cerpen bersama, 1 buku tentang permainan tradisional serta membidani lahirnya para penulis baru berbahasa Batak. Tercatat 9 Penghargaan Rancage sudah diraih oleh sastra Batak, sejak kali pertama tahun 2015, yang dianugerahkan kepada SPT. Tahun 2020, Kemdikbud menganugerahkan SPT penghargaan sebagai Tokoh Pelestari Bahasa Daerah.

Leave a Reply