Back

Nasib Agen Asuransi di Era Digital

Apa kabar agen asuransi? Menurut data AAJI, perolehan dari kanal keagenan selama 2 tahun terakhir terus mengalami penurunan sebesar 18,1 persen di 2020 menjadi 9,7 persen di 2021.

Agen asuransi (agen) termasuk orang-orang yang sudah teruji ketangguhannya di lapangan. Penurunan kinerja agen asuransi bisa menjadi catatan serta bahan kajian bagi agen sendiri maupun industri asuransi.

Perubahan terus terjadi dan masa sulit tak akan pernah berakhir tetapi orang-orang yang ulet serta gesitlah yang akan mampu mengatasinya. 

Tantangan Era Digital

Dua tahun terakhir ini, saat terjadi penurunan kinerja agen, merupakan masa sulit yang bersifat luar biasa karena berada dalam masa pandemi Covid-19. 

Perubahan lingkungan di dunia bisnis sangat cepat dan tidak pasti, sehingga menjadi tekanan psikologis yang tidak kondusif untuk beraktivitas.

Fakta yang terjadi, pandemi Covid-19 telah mempercepat penggunaan teknologi digital secara luas terutama di dunia bisnis. 

Di era digital sekarang tidak ada pilihan lain kecuali kita – termasuk para agen asuransi – bertransformasi diri dan mampu beradaptasi dengan lingkungan baru. Era digital ditandai dengan munculnya media baru yang bersifat interaktif, mudah diakses secara online, dan seketika.

Di titik ini, agen asuransi ditantang untuk mampu memberdayakan potensi dirinya dengan memadukan kecanggihan teknologi agar tetap produktif dan sukses.

Perlu Ulet dan Gesit 

Siapa yang bertanggungjawab atas kinerja agen, keberhasilan atau kegagalannya? Dalam perspektif organisasi tentu manajer atau pimpinan yang bertanggungjawab atas kinerja agen. 

Namun, faktanya, di lapangan agen asuransi sendirilah yang paling bertanggungjawab atas kinerjanya, keberhasilan atau kegagalannya, dalam bisnis asuransi.

Para agen perlu diingatkan bahwa masa sulit tidak akan pernah berakhir, tetapi orang yang ulet dan gesit akan mampu mengatasinya. Karena itu, karakter yang perlu dibangun di dalam diri  agen asuransi adalah karakter ulet dan gesit.

Karakter ulet atau sabar berarti tahan uji, tidak menyerah, tidak loyo, dan tidak putus asa dalam menghadapi kesulitan. Agen perlu cerdas mengelola emosi agar emosi negatif yang muncul dapat diserap dan diolah secepatnya menjadi energi positif yang membuatnya tetap produktif.

Adapun karakter gesit atau cekatan ini terkait dengan kemampuan untuk cepat merespon atas masalah atau peluang yang ada, serta mampu bekerja cepat dengan mencari solusi serta memanfaatkan peluang hingga mendapatkan hasil yang dikehendaki.

Kedua karakter, ulet dan gesit, ini penting agar agen bisa tetap bekerja produktif, efektif dan efisien. 

Karakter terbentuk dari kebiasaan, kebiasaan adalah perilaku yang diulang-ulang. Untuk membentuk karakter ulet dan gesit, agen perlu belajar pengetahuan baru, ketrampilan baru dan motivasi baru untuk sukses bekerja cepat dan produktif.

Transformasi Diri

Menghadapi lingkungan baru yang berubah cepat dan tidak pasti, agen perlu tetap fokus di jalur suksesnya. Mungkin Anda sekarang di jalur sukses untuk membangun bisnis, karir, atau lainnya. Untuk itu, agen perlu menjadi transformer bagi dirinya sendiri tanpa menunggu peran perusahaan asuransi. 

Menurut pencetus Neuro Semantic DR. Michael Hall, seseorang termasuk agen asuransi mampu menjadi transformer bagi dirinya sendiri melalui 6 pendekatan berikut:

Pertama, lingkungan. Agen perlu sadar bahwa lingkungan kerja atau bisnis sudah berubah. Agar tetap eksis Anda perlu membuat diri mampu beradaptasi dengan lingkungan baru yang terus berubah, belajarlah pengetahuan dan ketrampilan baru untuk kesuksesan Anda.

Kedua, perilaku. Di sini agen perlu berinisitif untuk mengubah perilaku kerjanya yang sebelumnya bersifat tradisinional menjadi modern berbasis pada aplikasi teknologi digital. Artinya, agen asuransi perlu belajar berbagai aplikasi yang terkait pekerjaanya dengan cepat dan mempraktikkannya untuk bekerja dan menyelesaikan pekerjaan dengan sukses.

Ketiga, kemampuan. Agen perlu terus aktif dan proaktif untuk memperbarui kemampuannya dalam aspek pengetahuan, ketrampilan, serta motivasi diri. Kapasitas agen harus lebih besar daripada masalah dan kesulitan yang dihadapi.

Keempat, identitas. Putuskan siapa Anda? Anda perlu identitas diri yang jelas dan tegas. Identitas diri Anda akan berpengaruh terhadap cara berpikir, berperasaan, berkehendak, bersikap, dan bertindak dalam menjalankan tugas profesional. Putuskanlah siapa Anda, apakah agen profesional, entrepreneur, atau pemilik  bisnis. Pilih identitas yang paling cocok dengan karakter Anda, kemudian ubah mindset Anda sesuai dengan identitas diri tersebut.

Kelima, nilai-nilai. Apapun motivasi kerja Anda itu benar bagi Anda. Nilai-nilai pribadi bisa menjadi sumber motivasi dan energi Anda. Cobalah bekerja berbasis nilai-nilai. Contoh, Anda bisa memilih bekerja untuk bersyukur, menolong orang lain, atau nilai kebaikan lainnya.

Keenam, keyakinan. Jangan terlalu percaya diri hanya mengandalkan kemampuan manusiawi Anda. Ingat Anda punya Tuhan. Tidak ada daya dan kekuatan kita kecuali dengan pertolongan Tuhan. Karena itu, perkuat hubungan dengan pemilik kekuatan tak terbatas, yakni Tuhan. Dia Maha Penghasih dan Maha Penyayang kepada semua makluk. Dia sebaik-baik pemberi rezeki. DIalah yang memberi kekayaan dan kecukupan. 

Para agen, nasib dan masa depan Anda berada di tangan Anda sendiri. Bertekadlah untuk tetap di jalur kesuksesan Anda. Berjuanglah dengan semua potensi dan kompetensi Anda untuk masa depan Anda yang lebih baik. Selanjutnya bertawakallah kepada Tuhan dan serahkan hasilnya kepadaNya. 

Jika Tuhan berkehendak menolong Anda, maka tak seorang pun mampu melawan Anda. Semoga Anda sukses. Terjadilah atas kuasa dan kehendakNya. Aamiin. ***

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis Asuransi” dalam rangka Hari Asuransi 2022)

Sugeng Widodo
Sugeng Widodo

Leave a Reply