“Dr. Kafka seorang pekerja yang sangat rajin dengan penuh bakat dan loyalitas, juga hubungannya dengan sesama kawan kerja dan atasannya selalu baik.”
(Dr. Robert Marschner, Direktur Asuransi di Praha)
Asuransi merupakan sebuah jaminan sosial manusia yang meyakinkan dalam hidup sehari-hari maupun di masa datang, sedang sastra sebagai sebuah ekspresi seni dari pergulatan fantasi maupun endapan memori yang dituangkan ke dalam kata-kata.
Adakah keterkaitan antara asuransi dan sastra? Setidaknya ada seorang sastrawan kelas dunia yang sepanjang hidupnya mengabdi pada bidang asuransi.
Ia adalah Franz Kafka, sastrawan Jerman kelahiran Praha, Republik Cheko. Setelah ia meraih gelar doktor pada ilmu hukum bidang yurisprudensi, ia bekerja pada Kantor Asuransi Swasta dari Oktober 1907 hingga Juli 1908 di Praha. Dari tahun 1908 hingga tahun 1922 ia berpindah ke Kantor Asuransi Kecelakaan Karyawan untuk wilayah Böhmen (Der Arbeiter-Unfall- Versicherungs-Anstalt) di Praha.
Kafka sering menggambarkan bahwa pekerjaannya itu bagaikan “pekerjaan yang menjanjikan (Brotberuf)”. Tugas pertamanya pada bagian kecelakaan karyawan perusahaan. Di usia 25 tahun ia mengusulkan dibuatnya peraturan bidang pencegahan kecelakaan karyawan dan dia bertindak sebagai penulis dokumen.
Sejak tahun 1910 ia dipilih sebagai konseptor dan mendatangi berbagai pertemuan di sekolah teknologi maupun di perusahaan di Praha. Kariernya meningkat sebagai wakil sekretaris pada tahun 1913.
Kegiatan Kafka di luar pekerjaan di kantor asuransi adalah menulis. Ia bergaul dengan kelompok seniman dan aktivis politik di Praha. Kadang ia ikut turun ke jalan mendukung aksi solidaritas kaum tertindas.
Pada buku berjudul Hukuman di Tanah Jajahan (In der Strafkolonie) dengan editor Klaus Wagenbach disebutkan, pada tahun 1911 di kerajaan Hongaria dan Austria terdapat 40.000 perusahaan dengan 650.000 karyawan. 50% dari seluruh karyawan itu diwajibkan mengikuti asuransi.
Kafka sibuk dengan para karyawan perusahaan yang mengalami kecelakaan. Kemungkinan Kafka saat itu merupakan satu-satunya sastrawan yang betul-betul terlibat langsung dengan persoalan kecelakaan dan sistem kerja di perusahaan. Tercatat Thomas Mann, Rilke, Hofmannsthal, Schnitzler, dan George tidak pernah melihat pabrik dari dalam.
Pada bulan Oktober 1914 Perang Dunia Pertama sudah berjalan selama dua bulan dan saat itu Kafka genap berusia 31 tahun.
Ketika Kafka sebagai wakil sekretaris mendapat liburan selama dua minggu., kesempatan itu ia pakai melanjutkan menulis novel Proses (Der Prozess) yang sudah sampai bab tujuh. Selain itu ia juga melanjutkan menulis prosa berjudul Hukuman di Tanah Jajahan dalam 6 hari (12–18 Oktober 1914)
Kafka sangat kritis terhadap pekerjaannya di asuransi yang mengurus musibah kecelakaan para karyawan. Sebab itu Hukuman di Tanah Jajahan ia anggap sebuah realitas.
Karya ini terbit pertama kali disertai dengan catatan buku hariannya, foto serta ungkapan-ungkapan, biografi atau penelitian sejarah. Hukuman di Tanah Jajahan bercerita tentang alat pembunuh tahanan di masa perang telah beredar luas.
Para tahanan itu dibunuh dengan cara yang keji dan biadab yaitu ditaruh di bawah mesin yang di atasnya ada besi-besi runcing siap menusuk ke seluruh tubuhnya dan diangkat ke atas.
Klaus Wagenbach, seorang peneliti karya dan sosok Kafka menjelaskan bahwa Hukuman di Tanah Jajahan yang dimaksud Kafka berada di daerah koloni Prancis, di Kaledonia Baru, dekat Australia.
Anak Pegawai Asuransi
Pada akhir Maret 1920 Kafka kedatangan anak teman kerja sekantornya bernama Gustav Janouch. Teman kerjanya itu sengaja mengirim anaknya bertemu Kafka, karena setiap malam anaknya menulis puisi dan menyukai sastra. Gustav kala itu masih berusia 17 tahun, sementara Kafka sedang dalam puncaknya berkarya sastra dengan usia 37 tahun.
Sejak terjadi pertemuan pertama di kantor asuransi itu, semakin sering mereka bertemu. Setelah Kafka meninggal, naas nasib Gustav ditahan pemerintah karena kekritisannya. Dalam frustrasi memuncak itu ia mencoba mengingat ulang percakapan-percakapan dengan Kafka dan berhasil ditulis menjadi buku dengan judul Percakapan dengan Kafka (Gespräche mit Kafka).
Buku Percakapan dengan Kafka terbit pada tahun 1961 dan cepat diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia. Di Indonesia buku karangan anak pegawai asuransi ini sudah beredar sejak tahun 2018.
Kafkaesque
Italo Calvino dalam bukunya The Uses of Literature menyebutkan nama Kafka telah menjadi ikon sastra resmi dengan menetapkannya sebagai kata sifat Kafkaesque. Suatu kisah yang berhubungan dengan kemurungan, kefrustrasian, kebimbangan, ketidakadilan, birokrasi berbelit-belit, jalan buntu hingga horor, maka model cerita seperti itu dalam sastra akan digolongkan berciri Kafkaesque.
Kafka melihat kerumitan dalam birokrasi dan ketidakadilan di pundak nasib karyawan di pabrik-pabrik. Semua peristiwa yang ia saksikan menjadikan sumber intuisi untuk menulis cerita.
Tak terbayangkan, bahwa di dalam kantor asuransi itu telah melahirkan dua sastrawan, yakni Franz Kafka dan Gustav Janouch.
Secara kebetulan kelahiran Kafka sama dengan kelahiran sastrawan klasik kita Abdoel Moeis, yakni pada 3 Juli 1883. Tanggal 3 Juli itu ditetapkan sebagai hari sastra nasional dan diperingati setiap tahun. Dengan begitu peringatan hari sastra Indonesia secara tak langsung sebagai peringatan kelahiran Kafka.
Pada tahun 1922 Kafka mengajukan pensiun dini, karena mengidap penyakit tuberkulosis. Ia meninggal pada 3 Juni 1924 dalam usia 41 tahun.***
(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis Asuransi” dalam rangka Hari Asuransi 2022)