Back

Identifikasi dan Kelola Risiko Secara Menyeluruh

“SAYA sudah memiliki polis asuransi, berarti saya sudah tidak perlu lagi mengelola risiko!” 

Anggapan tersebut terkadang masih muncul pada sebagian orang. Hal ini bisa dimaklumi mengingat asuransi adalah salah satu pilihan utama saat kita bicara pengelolaan risiko. Namun, apa benar bahwa asuransi saja cukup untuk melindungi kita dari semua risiko?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya kita mengenal konsep manajemen risiko dan kaitannya dengan asuransi. Pertama-tama kita samakan persepsi terlebih dahulu mengenai risiko. Secara definisi, risiko adalah efek dari ketidakpastian pada sasaran (ISO 31000 : 2018). Definisi ini memberikan penekanan atas keterkaitan antara ketidakpastian, yang bisa terjadi dimasa mendatang serta bagaimana kejadian tersebut akan memengaruhi sasaran kita.

Masing-masing dari kita tentu memiliki sasaran di masa mendatang, mulai dari sasaran yang sifatnya untuk pribadi maupun untuk organisasi. Ditinjau dari durasi waktu, sasaran itu pun bervariasi, ada sasaran jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Contoh sederhana misalkan kita merencanakan untuk bertemu calon nasabah minggu depan dengan target mendapatkan kesepakatan bisnis, itu adalah sasaran jangka pendek. Sementara itu kita memiliki target menyekolahkan anak ke universitas ternama 10 tahun mendatang adalah contoh sasaran jangka panjang. 

Dalam rangka mencapai sasaran yang telah ditentukan tersebut, kita akan melakukan berbagai usaha guna merealisasikannya. Antara lain kita siapkan rencana strategi, rencana aktivitas, menyiapkan dana dan sumberdaya serta tindakan-tindakan lain yang dibutuhkan. Nah, pada saat pelaksanaan tersebut kita akan menemui hal yang dapat memengaruhi, mengganggu atau bahkan menggagalkan target pencapaian sasaran. Sebagai contoh, kita dapat mengalami sakit, usaha atau bisnis terhenti sehingga tidak ada lagi sumber penghasilan, nasabah berpindah memilih produk pesaing, adanya pandemi yang membatasi ruang gerak usaha serta masih banyak lagi hal-hal di masa mendatang yang memengaruhi sasaran kita. Hal- hal inilah yang dimaksud dengan risiko.

Risiko sendiri pada dasarnya tidak hanya bersifat negatif, yaitu hal buruk yang jika terjadi hanya akan menimbulkan kerugian dan dapat menggagalkan pencapaian sasaran. Namun risiko juga ada yang bersifat positif, yakni hal baik yang jika terjadi akan membantu kita mencapai sasaran. Kita ambil contoh akselerasi penggunaan teknologi di masa pandemi. Ini merupakan risiko positif dalam bentuk peluang yang perlu dipergunakan untuk meningkatkan kinerja. Organisasi yang menangkap dan mempergunakan peluang ini dengan maksimal akan mendapatkan banyak manfaat. Misalkan pelatihan atau penjualan dan transaksi online yang dapat menjangkau lebih banyak dan lebih jauh karyawan maupun calon nasabah. 

Kedua jenis risiko positif dan negatif inilah yang perlu dikelola. Upaya seseorang atau organisasi dalam mengelola risiko disebut juga sebagai manajemen risiko. Tujuan dari manajemen risiko adalah untuk membantu mencapai sasaran yang sudah ditentukan. Dengan manajemen risiko yang terstruktur dan sistematis maka kita bisa mengetahui hal baik maupun hal buruk apa yang mungkin akan dihadapi pada masa mendatang. Hal buruk tentu diupayakan agar tidak terjadi, sementara hal baik perlu diupayakan untuk bisa kita raih dan manfaatkan.

Penanganan Risiko

Langkah pertama dari proses manajemen risiko adalah identifikasi risiko. Dalam tahap ini kita akan berusaha menemukan risiko-risiko apa saja yang akan memengaruhi sasaran. Ini adalah tahapan yang krusial dimana risiko yang gagal diidentifikasi maka berpotensi tidak dapat di lakukan analisa, evaluasi dan pada akhirnya tidak akan mendapat penanganan risiko yang mencukupi.

Setelah kita mengetahui risiko apa yang akan kita hadapi maka kita dapat dengan tepat menyiapkan langkah penanganan risiko tersebut. Pada tahapan ini terdapat beberapa opsi penanganan risiko dimana salah satunya sudah sangat kita kenal yakni Asuransi. Mekanisme pemindahan risiko dengan Asuransi merupakan salah satu opsi penanganan risiko yang sangat penting. Dengan membayar sejumlah uang premi maka risiko yang diperjanjikan dalam kontrak polis akan terlindungi. Opsi penanganan risiko ini memberikan tingkat keyakinan yang besar kepada organisasi bahwa risiko yang dimilikinya sudah diantisipasi. Dengan demikian organisasi bisa mengarahkan fokusnya ke aktivitas bisnis utamanya.

Selain opsi pemindahan risiko (risk transfer) sebenarnya masih ada beberapa opsi penanganan risiko lainnya antara lain:

  • Risk mitigation, adalah memodifikasi tingkat risiko dalam rangka mengurangi tingkat kemungkinan kejadian maupun tingkat dampaknya.
  • Risk avoid, adalah menghindari risiko yang dirasa dampaknya terlalu besar dengan kemungkinan kejadian yang tinggi.
  • Risk acceptance, adalah menerima risiko karena memang lebih ekonomis menanggung risiko tersebut, dan dengan perhitungan dan pengendalian yang matang.
  • Risk exploit, adalah melakukan tindakan untuk menambah risiko positif agar memperbesar kesempatan dan mendukung pencapaian sasaran

Dari sekian banyak risiko yang kita hadapi, ternyata hanya risiko yang memiliki sifat khusus saja yang dapat diasuransikan atau biasa disebut dengan insurable risk. Sifat khusus didalam insurable risk antara lain risiko tersebut harus hanya menimbulkan kerugian jika terjadi, dapat dinilai dengan financial, memiliki tingkat risiko yang sama (homogeneous exposure), tidak bertentangan hukum serta bersifat tiba-tiba dan tidak terduga.

Risiko kesehatan dalam bentuk biaya pengobatan yang dibutuhkan saat sakit adalah contoh dari insurable risk sehingga bisa dialihkan ke perusahaan asuransi. Namun risiko kehilangan kesempatan untuk menikmati waktu dengan keluarga akibat sakit, tidak bisa diasuransikan. Contoh lain misalkan risiko kerugian keuangan karena kebakaran aset dari sebuah pabrik,  termasuk dalam insurable risk. Namun risiko kerepotan memenuhi kewajiban kontrak perjanjian dengan pelanggannya, tidak dapat diasuransikan.

Selain itu masih banyak jenis risiko lain yang perlu diantisipasi oleh organisasi, seperti misalkan risiko kerusakan reputasi, risiko pelanggaran hukum, risiko kepatuhan, risiko gangguan operasional, risiko kehilangan kepercayaan dan pangsa pasar adalah beberapa contohnya. Ada kalanya kerugian yang diakibatkan dari risiko tersebut tidak dapat diasuransikan karena tidak memenuhi kriteria insurable risk. Oleh karenanya organisasi perlu mengidentifikasi semua risiko yang dihadapinya serta menentukan risiko apa yang bisa diasuransikan dan yang tidak, untuk selanjutnya menentukan opsi penanganan risiko yang sesuai. 

Dengan pemahaman yang tepat mengenai pentingnya asuransi serta manajemen risiko yang menyeluruh, maka kita pribadi maupun organisasi dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan yang penuh dengan ketidakpastian. Potensi risiko negatif dalam bentuk bahaya, ancaman dapat segera diidentifikasi secara cermat sehingga tindakan pencegahan dapat dipersiapkan secara tepat. Atau jika risiko tersebut terjadi maka dampaknya akan tidak signifikan bagi organisasi karena telah mempersiapkan diri. Sebaliknya potensi risiko positif dalam  bentuk kesempatan, peluang harus dapat pula ditemukan untuk kemudian dipergunakan secara maksimal dalam upaya pencapaian sasaran.***

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis Asuransi” dalam rangka Hari Asuransi 2022)

Cipto Hartono
Cipto Hartono

Leave a Reply