SUDAH nonton film Doctor Strange in the Multiverse of Madness? Film ini sebenarnya hanya berkisah tentang mengejar bahagia hingga lintas semesta. Tentu saja kebahagiaan itu ditampilkan dalam berbagai versi yang rumit sesuai karakternya. Ditambah bumbu visual yang luar biasa keren hasil pekerjaan para kreator computer generated imagery (CGI), film ini teramat memanjakan mata.
Apa jadinya bila kita mempunyai kembaran dan alternatif kehidupan di semesta yang berbeda? Bila beragam semesta itu benar-benar ada, saya mengharapkan kembaran saya menjalani kehidupan yang bahagia.
Apakah saya tidak bahagia di semesta yang saya jalani saat ini? Bagaimana bisa bahagia, bila industri asuransi masih mengalami sengkarut unit link serta permasalahan gagal bayar yang menimpa perusahaan asuransi jiwa tertua di Indonesia?
Saya pernah menulis artikel tentang sengkarut unit link dalam kaitannya dengan lemahnya literasi yang diterbitkan oleh media berskala nasional. Beberapa saat setelah artikel itu terbit, berbagai reaksi singgah dalam kolom komentar di media sosial saya dan sebagian besar bukan komentar yang membahagiakan.
Seorang teman facebook yang tidak saya kenal di dunia nyata, menggugat saya berkenaan dengan artikel itu. Dia adalah pensiunan guru yang gagal mencairkan manfaat polis asuransi jiwa yang dimilikinya. Ia merasa sudah menabung cukup lama. Wajar saja bila dia kesal, karena definisi menabung yang saya kutip dari KBBI artinya menyimpan uang.
Siapa yang tidak marah bila uang yang disimpannya justru tidak bisa digunakan ketika dibutuhkan? Ia merasa haknya terampas. Saya pun menjadi serba salah menanggapi keluh kesahnya. Terlebih teman facebook saya itu memposisikan diri saya sebagai pihak lawan yang pantas mendapatkan sumpah serapahnya.
Saya kemudian menjelaskan bahwa asuransi berbeda dengan tabungan. Ada variabel risiko dan ketidakpastian hasil investasi di sana. Namun dia tidak mau menerima penjelasan saya dan terus menyudutkan saya dengan beragam argumen yang tak terbantahkan.
Karena tak tahu lagi harus berkata apa, saya pun menyatakan bahwa saya bekerja di perusahaan asuransi umum, bukan perusahaan asuransi jiwa. Sebenarnya saya tidak tahu menahu mengenai permasalahan yang terjadi dengan polis asuransi jiwa yang dimilikinya. Saya juga tidak cukup paham atas sengkarut dalam internal perusahaan yang menempatkan dirinya sebagai korban.
Namun ia tetap berasumsi bahwa saya adalah ‘orang asuransi’ yang harus turut bertanggung jawab terhadap kasus raibnya tabungan seumur hidup yang dimilikinya itu.
Dengan putus asa, saya tak lagi berupaya memberikan penjelasan kepadanya. Ia memang tidak membutuhkan alasan. Ia hanya ingin tabungannya kembali, tanpa peduli apa yang terjadi.
Sudah jelas bahwa semesta asuransi yang ini tidak membuat saya bahagia. Maka seperti karakter Wanda Maximoff yang menjadi villain karena kegetirannya, saya pun berusaha menemukan kebahagiaan dari alternatif kejadian di semesta berbeda.
Dalam semesta lain itu, seseorang dengan panik menelepon dan meminta supaya dua pabrik plastik yang dimilikinya segera disurvey dan dicover asuransinya hari itu juga.
Karena khawatir terhadap isu moral hazard yang seringkali terdeteksi dalam permintaan asuransi yang terburu-buru, saya pun meluncur ke lokasi tanpa ragu.
Biasanya survey risiko cukup dilakukan oleh surveyor. Sebagai underwriter, saya cukup menganalisa risiko dari laporan survey yang dibuat surveyor. Tetapi kali ini saya turun langsung ke lapangan mendampingi surveyor karena penasaran, mengapa calon Tertanggung terkesan panik dan sangat terburu-buru ingin segera mengasuransikan pabriknya?
Dalam benak saya, berbagai skenario permasalahan moral hazard pun bermunculan. Dalam beberapa kasus, calon Tertanggung yang terburu-buru mengasuransikan kendaraannya seringkali memiliki tujuan lain, yaitu segera mengajukan klaim. Entah karena mobilnya sudah baret atau hilang dicuri orang tetapi belum diasuransikan, sehingga mendesak perusahaan asuransi untuk segera menerbitkan polis.
Usut punya usut, calon Tertanggung pemilik pabrik plastik yang meminta pabriknya disurvey kali ini memang sedang berada dalam kondisi kalut luar biasa. Ia memiliki tiga pabrik plastik di lokasi yang berbeda, dan salah satu pabriknya terbakar habis dalam semalam. Pabrik itu tidak diasuransikan, sehingga semua kerugian akibat kebakaran harus ditanggungnya sendiri.
Dalam kepanikannya, ia memikirkan dua pabrik plastik lainnya yang juga belum diasuransikan. Seperti sebagian besar orang, ia lalai memberikan proteksi dan baru menyesal ketika peristiwa kerugian terjadi.
Awalnya ia hanya ingin menghemat premi, namun kerugian yang harus ditanggungnya ternyata tak dapat diperkirakan besarnya. Pabrik yang terbakar tidak bisa beroperasi, karyawan harus dirumahkan karena tidak bisa bekerja, proses produksi terhambat, distribusi barang mengalami kendala, hingga pada akhirnya jaringan bisnis yang dibangun dengan susah payah pun berakhir sudah. Sebuah semesta yang tidak berakhir bahagia.
Melangkah ke dimensi lain, sebuah kejadian yang juga tidak membahagiakan dialami oleh rekan kerja saya sendiri. Dia adalah seorang underwriter muda yang hidup di perantauan dan telah menyisihkan sebagian gajinya setiap bulan untuk membeli motor kesayangan. Karena tinggal di tempat kost, motor itu hanya diparkir seadanya di halaman karena tidak ada garasi. Namun ada pagar besi yang tinggi dan selalu dikunci dengan gembok tebal supaya aman.
Siapa yang menyangka bahwa rasa aman itu hanya fatamorgana? Motor kebanggaannya dicuri orang di suatu pagi yang naas. Malingnya dengan sangat lihai berhasil memotong gembok dari baja yang tebal, entah menggunakan alat apa.
Yang membuat miris, motor itu tidak diasuransikan. Padahal jelas-jelas dia bekerja di perusahaan asuransi. Alih-alih ikut prihatin, teman-teman di kantor justru menertawakannya, “kerja di asuransi kok motor kesayangan tidak diasuransikan?”
Mendengarnya, membuat ia ingin pindah ke semesta lain. ***
(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis Asuransi” dalam rangka Hari Asuransi 2022)