AKHIR pekan lalu saya baru saja menonton salah satu film Marvel Cinematic Universe yang terbaru, yaitu Dr. Strange in Multiverse Madness. Film yang mengisahkan mengenai perjalanan lintas semesta yang sangat menarik dan kekinian dengan topik yang ingin saya tulis, yakni mengenai metaverse.
Jika lintas semesta mungkin masih dalam kerangka teori, namun lintas virtual atau metaverse bukan lagi berada di tataran teori. Metaverse sudah ada di hadapan kita, suka atau tidak suka.
Ada satu fakta yang saya lihat baik dari kacamata praktisi dunia asuransi maupun akademisi, yaitu bahwa Pandemi Covid-19 telah mengubah cara orang melakukan pelatihan atau edukasi di seluruh dunia, apa pun produknya, baik berupa barang atau jasa. Di zaman sebelum virus ini meluluhlantakkan nyaris peradaban sosial manusia, model edukasi untuk proses penjualan barang dan jasa selalu bertitik tolak dari edukasi luring atau tatap muka. Proses edukasi secara daring seolah sulit sekali diterapkan. Semua perusahaan berusaha berlomba-lomba menyekolahkan tenaga penjualnya ke berbagai macam sekolah komunikasi yang berbasis tatap muka. Termasuk di dalamnya industri asuransi.
Saya yakin zaman itu tidak ada satu pun manajemen puncak dari berbagai industri termasuk industri asuransi yang berpikir bahwa pandemi ini akan mengubah seluruh tatanan norma hidup manusia. Ketika pandemi ini merebak dan membelokkan arah sejarah umat manusia, negeri kita ini juga menerapkan aturan pembatasan aktivitas. Semua aktivitas yang bersifat berkumpul tidak diizinkan. Termasuk di dalamnya penjualan produk-produk asuransi dan proses edukasi untuk agen-agen asuransi. Semua agen beserta dengan trainernya dan juga nasabah tidak boleh bertatap muka. Karena penjualan dan pelatihan harus terus berjalan, maka penjualan dan pelatihan daring menjadi konsekuensi logis saat itu.
Namun tentunya tidak ada badai yang tidak berlalu walau dengan harga mahal yang harus dibayar mahal. Saat ini agen, trainer dan nasabah sudah terbiasa dengan penjualan dan pelatihan yang secara absolut dapat dilakukan secara daring. Bahkan saat ini banyak perusahaan asuransi yang sudah melampaui tahap tersebut dengan melakukan hybrid untuk penjualan dan pelatihan.
Tapi ada yang mengganjal dalam benak saya, yaitu fakta bahwa interaktivitas sosial penjualan dan pelatihan menjadi satu celah besar dalam proses edukasi asuransi. Celah ini kita perlu pertimbangkan. Di dalam model bisnis asuransi sebelum pandemi, agen dan trainer duduk dalam satu ruangan yang sama. Trainer bisa dengan leluasa memfasilitasi agen untuk berinteraksi antara satu agen dengan agen yang lain. Interaktivitas sosial di dalam kelas itu bisa dipantau secara langsung. Proses edukasi asuransi secara konstruktivisme sosial dapat dengan mudah diimplementasikan di dalam kelas konvensional sebelum pandemi.
Ketika moda edukasi asuransi bergeser dari kelas tatap muka ke kelas virtual muncul satu isu krusial, bagaimana para agen dapat berinteraksi satu sama lain layaknya mereka berinteraksi di dalam kelas nyata?
Jawaban logis yang dapat diusulkan atas postulat di atas adalah dengan membangun platform yang dapat memfasilitasi edukasi asuransi di dunia virtual semirip mungkin dengan di dunia nyata, atau bahkan melebihi itu. Metaverse adalah semesta baru yang mungkin bisa menjawab persoalan ini. Lingkungan di metaverse juga dapat dibuat serupa dengan lingkungan di dunia nyata. Menariknya lagi, kita bisa menciptakan avatar kita sendiri dan berinteraksi dengan avatar orang lain layaknya setiap orang berinteraksi satu sama lain di dunia nyata.
Dengan demikian, tercipta satu hal yang dalam teori sosiologi disebut dengan interkonetivitas sosial yang diimplementasikan dalam dunia virtual. Interkonektivitas sosial dalam metaverse ini akan menjawab pertanyaan tentang bagaimana agen dan trainer dapat berinteraksi satu sama lain layaknya mereka berinteraksi di dalam kelas nyata. Dengan metaverse, model edukasi asuransi yang dilakukan secara daring akan terasa seperti halnya pelatihan tatap muka di ruang kelas.
Dengan era metaverse maka kita akan menggabungkan berbagai macam teknologi itu sebagai manifestasi evolusi teknologi digital. Dengan metaverse, bahkan kita bisa membuat konten edukasi digital dan memiliki polis asuransi di dunia virtual. Menarik, bukan?
Saya mempunyai opini bahwa selagi teknologi metaverse ini masih dalam tahap awal, maka semua pihak di industri asuransi perlu bersinergi untuk bersiap menghadapi teknologi baru ini. Khusus dalam kerangka edukasi adalah sangat mendesak untuk kita segera menata diri dan melakukan kolaborasi untuk melihat semua aspek yang relevan dengan model edukasi metaverse di Indonesia.
Kita perlu menyiapkan semua data yang menjawab kesiapan perusahaan, manajemen puncak, agen, dan semua pemangku kepentingan perlu dikaji secara teoritis tentang bagaimana model edukasi yang paling efektif untuk menyongsong era metaverse. Terutama menyiapkan sisi psikologis dan sosial agen dan trainer dalam proses edukasi metaverse, adalah hal terpenting. Dan juga tentang bagaimana aspek sosiokultural dan kearifan penata kebijakan dalam mendukung kesiapan industri asuransi menghadapi metaverse, menjadi urgen untuk dijawab.
Dan yang tidak kalah penting, semua pihak harus berbesar hati menerima masukan bahwa model edukasi asuransi secara metaverse akan menjadi paradigma baru yang dapat menghasilkan agen asuransi Indonesia unggul dengan tetap berpedoman kepada nilai-nilai murni bisnis asuransi, bukan sekadar euforia terhadap kecanggihan teknologi metaverse.***
(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis Asuransi” dalam rangka Hari Asuransi 2022)