oleh: Andreas Freddy Pieloor*
Aku tidak pernah berpikir, barang sejenak pun bahwa aku akan menjadi seorang praktisi perasuransian yang pada akhirnya menjadikanku seorang guru asuransi.
Bagaimana aku mampu berpikir walau sejenak mengenai asuransi, tahupun aku tidak. Ya, aku tidak tahu apapun mengenai asuransi hingga tahun 1986.
Saat aku lulus Sekolah Menengah Atas Fransiskus I, Kramat Raya Jakarta Pusat pada tahun 1986 dan saat itu usiaku 19 tahun. Aku mencoba untuk memasuki Universitas Negeri karena yang kutahu uang kuliahnya ekonomis, agar aku tidak membebani orang tuaku terlalu besar. Pada tahun-tahun itu, papiku sedang sulit ekonominya.
Sesungguhnya papiku adalah seorang kapten kapal yang memiliki gaji besar. Bila papiku dapat melakukan perencanaan keuangan dengan benar, maka kuliah ke luar negeripun mestinya orang tuaku sanggup membiayaiku. Bagaimana tidak besar, aku masih ingat pada tahun 1979-1980, papiku ditawari pekerjaan sebagai kapten kapal dengan gaji sebesar Rp.2.500.000 per bulan.
Aku mengikuti Sipenmaru (sistim penerimaan mahasiswa baru) Perguruan Tinggi Negeri. Namun aku kurang beruntung, semua Universitas tersebut tidak bersedia menerimaku, mungkin karena hasil tesku yang kurang memadai bagi mereka.
Papiku tahu bahwa aku gagal memasuki universitas negeri, dan pada suatu hari di bulan Juli/Agustus 1986, beliau mengajakku untuk mengunjungi kerabatnya di Jl. Cikini Raya. Saat tiba di kantor kerabatnya, yang akhirnya kutahu bernama Fred Iswara SH, yang merupakan Direktur Utama dari sebuah perusahaan pialang asuransi bernama: Mitra, Iswara & Rorimpandey.
Papiku meminta saran dari Pak Iswara tentang dimana anaknya (aku) dapat kuliah. Tentu saja tanpa berpikir panjang Pak Iswara menyebut nama Akademi Asuransi Trisakti (Akastri) yang didirikan hasil kerja sama 3 lembaga tahun 1984 yaitu, Dewan Asuransi Indonesia, Asosiasi Broker Asuransi Indonesia dan Yayasan Trisakti.
Jam kuliah Akastri dimulai pukul 18.30 – 21.00. Karena Akastri memang dibentuk mengakomodir para pegawai perasuransian di era itu yang sebagian besar hanya tamat SMA. Kemudian merekapun tidak memiliki pengetahuan dasar asuransi, mereka belajar dari bekerja. Jadi tepatlah Akastri dibangun untuk mendukung dan menunjang industri perasuransian Indonesia. Karena jam kuliahku sore malam hari, tentu sebagai anak muda aku “boring and bete”. Kasihan otakku yang cerah cemerlang ini tidak diasah, bisa-bisa nanti jadi karatan.
Tanpa berpikir panjang akupun meminta persetujuan orangtuaku agar aku bisa bekerja apa saja alias magang, tanpa meminta honor apapun. Papiku pun meminta waktu bertemu Pak Iswara dan alasan pertemuan tersebut. Setelah pertemuan berlangsung, Pak Iswara menyetujui aku magang di MIR. Hari pertamaku pada tanggal 13 April 1987 semester kedua. Jadilah aku magang dengan honor sebesar Rp.50.000.
Jadilah aku belajar bekerja di MIR pukul 08.00-16.30, dan belajar kuliah di Akastri pukul 18.30-21.00. Tempat tinggalku tahun 1984-1987 di Pondok Duta Cisalak, aku mesti berangkat pukul 05.00 agar tidak terlambat masuk kerja, dan pulang kuliah pukul 21.00, sehingga tiba kembali ke rumah pukul 22.00an. Begitulah kehidupanku selama dua setengah tahun, belajar bekerja dan kuliah. Terima kasih kepada Pak Iswara yang telah memberikan kesempatan aku belajar bekerja alias magang di MIR, karena selama 3 tahun.
Selama 3 tahun, semua pekerjaan kulahap, dengan membuat photo copy dan kemudian kupelajari saat di rumah. Berbagai macam polis asuransi, klausula, warranty dan lain sebagainya. Memang kuakui, kamus Bahasa Inggris kubutuhkan agar bisa memahami polis-polis dan klausula-klausula berbahasa Inggris.
Aku belajar bekerja di MIR begitu memuaskanku, semua pelajaran dari atasan kuserap dan meringankan beban pekerjaan mereka. Aku sangat sibuk, karena saat magang aku belajar dan belajar. Karena aku magang di MIR pagi hari, itu memudahkan aku menerima seluruh pelajaran di Akastri. Yang terpenting saat kuliah adalah bagaimana lulus secepatnya dari sana dan kemudian aku bisa bekerja secara penuh dan tidak lagi menjadi magang-er.
Pada tahun 1990 aku melayangkan surat lamaran ke 1-2 perusahaan asuransi, dan akupun diterima sebagai Management Trainee. Tetapi karena aku mengenal Henry Ridwan, maka akupun meminta bantuannya agar bisa meminta bantuan ayahnya Bapak Herman Marlissa yang saat itu menjabat sebagai Direktur Utama Asuransi Jayasraya (Tokio Marine). Jadinya aku bekerja di Tokio Marine sejak tahun 1990, namun karena pekerjaanku sangat sedikit alias minim di sana, aku merasa “boring and bete” lagi. Aku tidak bisa belajar banyak. Banyak waktuku di sana kosong alias nganggur.
Kemudian aku pindah ke Wahana Tata di tahun yang sama, dan bekerja sebagai tenaga pemasaran di Kantor Cabang Utama yang dikomandoi oleh Pak Robert. Di sini aku menikmati waktuku belajar dan bekerja membangun networking. Aku mengikuti kelas di Lembaga Pendidikan Asuransi Indonesia (LPAI) di beberapa kelas tingkat intensif.
Terus terang saat muda, aku haus dan lapar akan pengetahuan dan pengalaman, sehingga saat aku merasa stuck alias tidak bertumbuh di Wahana Tata, karena untuk menduduki sebuah posisi kepala cabang, antriannya sangat panjang.
Dari Wahana Tata, aku pindah ke Allianz untuk belajar, dan akupun meminta berpindah bagian dari klaim, reasuransi, underwriting hingga marketing. Aku mengenal figur yang membantu karir dan pembelajaranku selama di Allianz: Pak Manfred Wittau (alm), Pak Victor Sandjaja, Ibu Ully Tanugroho, dan Pa ‘Ci.
Setelah itu aku berangkat ke Danamon Insurance Broker, Danamon Asuransi, AGF, AIOI (Chiyoda), Ultramas Broker dan akhirnya aku bisa membangun bisnis sendiri yang diberi nama: PT. Antara Intermediary Indonesia yang kupimpin selama 15 tahun.
Aku mengajukan pensiun dini dari perusahaan yang kubangun, karena aku ingin membangun bisnis pendidikan dan pelatihan yang menjadi passion-ku.
Asuransi bagiku adalah ibu, yang telah menyusuiku dan merawatku serta membesarkanku, maka aku berkewajiban untuk membalas budi dan kebaikan itu.
*Guru Asuransi