Back

BMA 2023: Asuransi Menolong-Ku!

Oleh: Angel Gabriella

Setiap orang pasti tidak bisa memprediksi kapan terjadinya kecelakaan yang akan menimpa dirinya. Entah itu kecelakaan dalam skala kecil maupun besar, alih alih sudah seperti bayangan yang mengikut kita tanpa henti. Hal utama yang harus dilakukan ketika anda sedang dihadapkan pada suatu musibah kecelakaan, yaitu menenangkan diri. Seringkali orang mengabaikan hal ini, padahal jiwa yang tenang mampu menghasilkan pikiran positif. Ketika kecelakaan terjadi, tidak jarang orang menjadi panik  yang malah memperburuk situasi.

Berawal dari pengalamanku pada pada tahun 2014, aku duduk di bangku kelas 4 SD (usia ku 9 tahun) dan tinggal bersama orang tua di Jakarta. Pada tanggal 22 November 2014, sekolah mengadakan perjalanan belajar ke Museum Fatahila yang mewajibkan seluruh murid kelas 4 dan kelas 5 untuk mengikutinya dan sebagai salah satu syarat kelulusan.  Aku mengikutinya dan berangkatlah aku bersama ayah ke sekolah menggunakan sepeda motor bebek pada jam  6 pagi. Saat itu cuaca sedang turun hujan ringan dan kondisi jalan raya cukup padat, dijalan ada pengendara motor yang baru keluar gang secara langsung dan menabrak bagian knalpot motor kami. Karena ayah terkejut, maka yang harusnya rem kaki terlebih dahulu  akan tetapi rem tangan yang didahulukan oleh ayah, sehingga menyebabkan saya jatuh dan kepala saya terkena pembatas jalan. 

Sekejap aku langsung tidak sadarkan diri, singkat cerita ketika aku sadar sudah diruang ICU dan kepala sudah botak dengan perban putih mengelilingi kepalaku dan beberapa selang yang ada didalam tubuhku. Sungguh ini sebuah mukzijat, ibuku membawa sebuah botol yang didalamnya berisi sebuah patahan tulang, yang ternyata tulang dari pelipis kepalaku. Rupanya aku mengalami patah tulang pelipis dan telinga sebelah kiriku sobek. Namun saat itu aku belum cukup kuat untuk berbicara banyak, karena masih ada selang makanan yang dimasukan kedalam mulutku. Beberapa obat yang diberikan melalui suntikan antara lain Obat Analgesik (Penghilang rasa nyeri), Obat Antiinflamasi (mengurangi peradangan), obat antibiotik (menghambat penyebaran infeksi).

Bersyukur bisa melewati masa kritis selama 4 hari di ruang ICU, pada hari ke-5 aku dipindahkan diruang rawat Inap. Seluruh selang yang dimasukan kedalam tubuhku sudah dilepaskan kecuali untuk infus. Beberapa kemajuan sudah mulai diperlihatkan mulai dari berdiri, buang air besar sudah tidak melalui pipet dan sudah boleh makanan keras. Pada hari ke-20 perban dikepalaku sudah dilepaskan dengan bekas jahitan yang sudah mongering berbentuk bando dan jahitan ditelingaku juga sudah mengering. Akhirnya dokter memperbolehkan untuk rawat jalan pada hari ke-30, karena untuk menyusul ketertinggalan kehadiran disekolah. 

Aku berasal dari keluarga yang tidak mampu. Melihat wajah papa dan mama yang tampak sedih, khawatir dan juga bersyukur karena anak semata wayang mereka sudah boleh siuman lagi, tanpa ada cacat sekalipun. Total dari biaya operasi, rawat inap dan obat-obatan sekitar 48 juta, dan semuanya dibayar oleh Jasa Raharja dan BPJS kesehatan. Bersyukur ada Pak RT yang membantu mengurusi berkas pengajuan asuransi kepada jasa raharja seperti KTP, KK, Surat tindakan kepolisian, surat keterangan medis. Semua pengajuan klaim dapat diselesaikan dengan cepat. 

Temanku, semoga dari pengalaman aku ini, kalian boleh belajar betapa pentingnya berasuransi, karena tidak ada yang tahu kapan risiko terjadi. Jika memang kalian memiliki penghasilan yang pas, pastikanlah Jasa Raharja dan BPJS atau KIS kalian aktif.  Karena perlu diketahui, bahwa  penyesalan itu datangnya belakangan.

Angel Gabriella
Angel Gabriella

Leave a Reply