Oleh: Bayu Trian Yulianto
Mas atau mbak pembaca yang masih jomblo, yang lagi nyari pasangan, atau mau menikah, sedang merencanakan punya anak, atau yang sudah punya anak, perlu memahami hal yang satu ini. Iya, pendidikan!
Pentingnya Pendidikan
Tanpa merendahkan kawan-kawan yang tidak mendapat kesempatan mengeyam pendidikan. Bagi saya, pendidikan merupakan jembatan vital untuk menginkatkan kualitas serta kompetensi diri yang paling efektif. Tidak sedikit kasus, pendidikan menjadi modal awal turning point dari kesejahteraan ekonomi dan derajat suatu keluarga.
Setelah melewati 16 tahun masa pendidikan, saya mengenal beberapa kawan yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Namun, berkat kegigihannya menempuh pendidikan, kawan saya ini berhasil menjadi aset keluarga yang amat berharga. Baik dari segi ekonomi, martabat, hingga menjadi kebanggaan keluarganya. Sampai sini, saya yakin kita sudah bersepakat bahwa pendidikan memang mempunyai peran yang amat krusial.
Akan tetapi, kita juga perlu menilik sisi sebaliknya. Sayangnya, beberapa kawan saya juga harus menelan pil pahit. Ada kawan yang ditinggal orang tuanya karena tutup usia, ada orang tua kawan yang putus kerja atau bangkrut, dan ada juga yang mengalami “habis kejayaan orang tua”, atau kondisi ketika orang tua sudah tidak di masa produktif lagi namun anaknya masih di masa sekolah/kuliah. Akibat ditinggal penanggung biayanya, otomatis perkuliahan atau sekolah mereka tidak berjalan mulus. Belum lagi permasalahan biaya pendidikan yang kini semakin melejit dan mahal. Maka, tak sedikit pula yang pada akhirnya mengubur cita-cita mereka.
Bersumber dari data Badan Pusat Statistik (BPS), ternyata uang sekolah dan universitas di Indonesia memang mengalami kenaikan. Kenaikan tersebut berkisar di angka 10 hingga 15 persen per tahunnya. Dengan demikian, biaya pendidikan anak akan naik sekitar 1,5 kalinya dalam 10 tahun ke depan dan dalam 20 tahun kemudian biaya pendidikan bisa naik hingga lebih dari 2 kali lipatnya. Kita, Milenial dan Gen Z, yang akan menjadi orang tua pada 10 hingga 15 tahun ke depan akan menjadi generasi yang paling terdampak atas fenomena inflasi dana pendidikan ini. Bayangkan saja, uang kuliah kita saat ini saja sudah membuat kita gigit jari. Lalu bagaimana dengan uang sekolah atau kuliah anak kita yang wajib kita tanggung pada 10 tahun ke depan.
Setelah dieksplor akar permasalahannya, pengalaman-pengalaman pahit kawan-kawan kita itu salah satunya berhilir dari buruknya perencanaan finansial untuk anak dari orang tua. Terkadang memang kita sudah berupaya untuk merancang dana pendidikan anak secara pribadi dengan matang. Namun, karena ketidakprofesionalan kita, ancang-ancang rencana dan niat tersebut gugur karena hal-hal yang sebenarnya tidak masuk top priority seperti kebiasaan jajan, check out barang tidak berguna, ngopi puluhan ribu, atau hal-hal lainnya yang tidak bermanfaat dan buang-buang uang.
Solusi praktisnya adalah menyerahkan hajat tersebut kepada sebuah lembaga profesional sesuai bidangnya. Dan jawaban yang paling tepat adalah kepada perusahaan asuransi. Pada segi ini, produk yang tepat mengatasi masalah-masalah yang diuraikan di atas adalah produk asuransi pendidikan. Asuransi pendidikan berperan mirip dengan tabungan pendidikan, yang mana esensinya adalah memberikan proteksi dan perlindungan terhadap anak tertanggung pemegang polis.
Asuransi Pendidikan
Asuransi ini dapat menjamin ketika orang tua tutup usia, cacat tetap, atau mengalami penyakit kritis. Selain itu, produk ini berperan juga sebagai asuransi jiwa bagi anak yang ditanggung, semisal sang anak sakit atau kecelakaan, maka perusahaan asuransi dapat memberikan santunan. Ditambah lagi, umumnya produk ini juga termasuk dengan investasi dan manfaat lainnya sesuai dengan perjanjian tertanggung dan perusahaan asuransi di polis.
Dikutip dari Samuji, Faculty Head of Sequis Training Academy of Excellence, dia menyarankan para orang tua dan calon orang tua untuk menggunakan asuransi pendidikan untuk anaknya.
“Pada asuransi pendidikan, perusahaan asuransi akan mengelola premi yang dibayarkan untuk menyiapkan perlindungan berupa uang pertanggungan (UP) jika terjadi risiko pada meninggal dunia pada orang tua sebagai tertanggung” ujar Samuji dalam siaran persnya, Minggu (23/7/2023).
Bahkan menurut Samuji, ketika tertanggung tutup usia, polis akan tetap aktif sebab perusahaan asuransi yang akan meneruskan pembayaran preminya sampai masa pembayaran selesai. Manfaat lainnya adalah dana pendidikan dapat dicairkan pada periode tertentu meski tertanggung tutup usia. Dana pendidikan ini dapat dicairkan secara berkala dengan jumlah sesuai dengan perjanjian yang ada di polis.
Selangkah Lebih Maju Dengan Melek Asuransi
Milenial dan Gen Z yang baru mempunyai anak, merencanakan mempunyai anak, akan menikah, punya pacar, atau bahkan yang masih jomblo pun sudah sepantasnya aware dan melek akan hal ini. Begitu juga dengan produk-produk asuransi lainnya, karena pada prinsipnya sama, yaitu me-manage resiko-resiko yang ada.
Demi ketentraman kita sebagai calon orang tua serta cita-cita yang ingin digapai sang anak, orang tua perlu memfasilitasinya. Kita yang bahkan belum menjadi orang tua memang sudah seharusnya step ahead agar mendapatkan masa depan yang cerah bagi kepentingan keluarga dan anak kita. Toh jika anak sukses, kita juga yang bangga kan nantinya?