Oleh: Badratun Nafisah R
Kala itu minggu sore di dalam mobil sepulang membayar janji quality time bersama buah hati karena sejak senin sampai jumat orang tuanya sibuk sekali dengan pekerjaan kantor.
Diiringi dengan kajian dari channel youtube yang kami putar menemani perjalanan pulang, hingga ada suatu pembahasan yang menarik perhatian kami, yakni seputar kehidupan keluarga dan anak. Youtuber tersebut mengatakan:
Islam merupakan agama yang sangat memperhatikan pembinaan generasi penerus. Salah satunya ditegaskan oleh Allah SWT di dalam Alquran, Surat An-Nisa ayat 9.
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” Q.S. An-Nisa : 9
Yang utama adalah jangan tinggalkan generasi yang lemah dalam 4 hal, yaitu :
- Lemah Akidah atau Iman,
- Lemah ibadah,
- Lemah ilmu, dan
- Lemah ekonominya,
(Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/puick1374/jangan-tinggalkan-generasi-yang-lemah-dalam-4-hal)
Lantas, pikiranku menerawang, kembali ke masa lalu ketika ayahku diusia 36 tahun meninggalkan ibu dengan dua orang anak berusia 6 tahun dan 3 tahun. Dengan kondisi pekerjan ayah adalah seorang freelance yang sedang merintis membangun yayasan menjadi satu hal yang tak terelakan untuk kami yakin bahwa kami tak memiliki pensiunan atau jaminan sejumlah uang untuk setidaknya mengizinkan ibuku berdamai dengan kesedihannya.
Ibuku hanya punya waktu beberapa minggu untuk bersedih dan dipaksa menerima keadaan bahwa beliau harus tetap berdiri dan bertahan, bahwa di pundaknya mulai saat itu di bebani menjadi tulang punggung keluarga. Dan tidak dapat dipungkiri betapa cukup sering kami menghadapi kehidupan yang sulit karena ekonomi khususnya hingga kami dapat bertahan sampai saat ini.
Kejadian tersebut terekam jelas pada diriku sehingga ketika aku dipercaya menjadi orang tua tak jarang menimbulkan suatu kekhawatiran jika suatu hari aku dipanggil untuk pulang kepangkuan Tuhan, Apakah aku meninggalkan anak keturunanku menjadi generasi yang kuat dan bisa menghadapi kehidupan masa depan.
Menanam akidah, memastikan ibadah mereka selalu terjaga dapat kita tanamkan sejak kita masih hidup dimulai dengan pembiasaan. Akan tetapi memastikan kesejahteraan mereka agar tetap dapat menuntut ilmu dengan nyaman dan memastikan mereka memiliki ekonomi untuk menjaga keturunan kita agar hidupnya kelak tidak menjadi beban bagi orang lain setelah kedua orang tua nya tiada merupakan hal yang harus difikirkan dan juga disiapkan mulai sekarang.
Aku mulai berfikir menyayangi keluarga dan anak-anak yang sebenarnya adalah mulai menyiapkan masa depan untuk mereka semampu kita selama kita hidup, dengan memberikan manfaat bagi mereka bukan hanya sekarang tapi seterusnya bahkan ketika kita meninggalkan mereka. Peran orang tua sesungguhnya bukan hanya memanjakan saat kita masih hidup dengan membelikan mainan mahal atau mengajak mereka makan di restoran mahal saja, akan tetapi memastikan keadaan cukup di masa depan walaupun kelak Aku tak bisa menemani mereka melangkah lagi.
Artinya kita sebagai orang tua perlu memikirkan dan mencari tahu bagaimana cara menyiapkan sejumlah dana khusus untuk mereka, agar tetap dapat melanjutkan kehidupan mereka dalam waktu tertentu. Apakah mulai berinvestasi? Pertanyaan selanjutnya apakah cukup waktu kita untuk berinvestasi?
Karena maut tak mengenal waktu dan usia, Jika tidak mulai dari sekarang. Apakah yakin esok masih sempat?
Solusi yang menurutku cukup solutif adalah dengan mulai menyisihkan sejumlah dana untuk membeli asuransi. Dan menghitung jumlah biaya yang dibutuhkan keluarga kita kelak untuk menentukan manfaat asuransi yang perlu disiapkan.