Back

BMA 2023: Asuransi dan Kerikil di Kaki

Oleh: Margaretha Lina Prabawanti

Hidup ini menakutkan. Atau lebih tepatnya, masa depan itu menakutkan, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi. Seperti kerikil di kaki yang mengganggu, demikianlah kecemasan akan masa depan mempengaruhi perjalanan hidup kita.

Mencemaskan masa depan memang selalu membuat kita gelisah, bukan? Ketidakpastian adalah pangkal dari kegelisahan kita dalam menjalani hidup. Padahal di sisi lain, apabila kita bisa mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi, kehidupan justru akan kehilangan daya tariknya.

Apa asyiknya mengetahui dengan pasti kapan kita mengalami kesusahan, kesakitan dan penderitaan? Dimana letak serunya hidup, bila kita sudah tahu terlebih dahulu kapan kita akan mati? Bukankah hal itu akan membuat kita justru mencemaskan hidup setiap hari atau sebaliknya, cenderung diam saja menunggu hingga ajal tiba, tanpa ada keinginan lagi untuk berupaya?

Kita bisa meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan atau memprediksi siapa presiden terpilih nanti, namun hanya sebatas perkiraan belaka. Kita tidak pernah bisa mengetahui secara pasti apakah ramalan kita benar-benar terjadi. Kita hanya akan tahu siapa presiden terpilih nanti setelah proses kampanye dengan segala hiruk pikuknya ini berakhir dan pemilu selesai dilaksanakan.

Kita bisa memprediksi proyek pembangunan IKN selesai dengan aman tetapi tidak bisa mengetahui secara pasti hingga ibukota negara di lokasi yang baru itu telah benar-benar berdiri dan pejabat negara serta pegawai negeri pindah ke Pulau Kalimantan untuk menjalankan pemerintahan dari sana.

Kita juga bisa memperkirakan bahwa investasi kita akan terus berkembang dan memberikan hasil maksimal di masa depan, tetapi tidak bisa mengetahui dengan pasti apakah tidak terjadi perubahan significant dalam perekonomian secara makro maupun mikro yang membuat investasi kita justru berkurang.

Untuk menghindari kecemasan akan ketidakpastian, kita perlu berupaya untuk mengubah ketidakpastian itu menjadi harapan yang mampu meredam kegelisahan supaya kita bisa menjalani hidup yang lebih tenang. Dengan kata lain, kita perlu menyingkirkan kerikil di kaki kita untuk bisa melanjutkan perjalanan. Untuk alasan itulah kita membutuhkan asuransi.

Asuransi dapat menangkal kegelisahan dan membuat hidup menjadi lebih tenang. Hanya dengan cara menukar premi yang tak seberapa nilainya itu dengan kemungkinan terjadinya kerugian keuangan yang jauh lebih besar di kemudian hari. Atau menukar ketidakpastian terjadinya kerugian di masa depan dengan kepastian nilai premi di masa kini.

Bagi saya pribadi, asuransi bukan sekadar jaring pengaman. Selama lebih dari dua dekade, asuransi telah memberikan saya nafkah untuk memelihara kelangsungan hidup. Asuransi juga memberikan dunia yang mewarnai hidup saya dengan pertemanan yang meriah dengan orang-orang yang berkecimpung di industri yang sama.

Semuanya berawal dari suatu senja ketika saya, remaja lulusan SMA dari Salatiga yang mendamba untuk bekerja di ibukota, menerima surat panggilan kerja. Aneh sekali bukan, surat panggilan kerja itu diantar kurir perusahaan pada minggu sore menjelang malam? Ternyata sang kurir lupa mengantarkan surat itu pada hari sebelumnya, padahal wawancara kerja untuk saya dijadwalkan pada hari Senin keesokan harinya. Beruntung sang kurir masih memiliki rasa tanggung jawab, padahal bisa saja sang kurir mangkir dari tugasnya dan beralasan surat panggilan sudah diantar tapi yang diundang enggan datang, bukan?

Sebelum diterima bekerja, saya benar-benar awam dengan asuransi. Satu-satunya interaksi saya dengan asuransi hanya sebatas nama saya yang tercantum sebagai ahli waris dalam polis asuransi jiwa milik Budhe yang tidak memiliki anak kandung sendiri. Itupun polisnya sudah dibatalkan dan ditarik nilai tunainya hanya beberapa tahun setelah diterbitkan karena Budhe tidak memiliki budget membayar premi lanjutannya. Lagipula, Budhe tidak memiliki anak kandung yang harus dipikirkan kesejahteraannya bila dia tiada, sehingga merasa bahwa polis asuransi jiwa yang dimilikinya hanyalah kesia-siaan belaka. Tidak seperti orang lain yang merasa wajib membeli polis asuransi jiwa untuk menjamin masa depan keturunannya.

Singkat cerita, saya diterima bekerja di sebuah perusahaan asuransi swasta nasional di Jakarta. Sebagai lulusan SMA dari daerah yang tidak memiliki pengalaman kerja, tentu saja diterima bekerja di perusahaan asuransi menjadi catatan prestasi yang membanggakan bukan hanya bagi saya, tetapi juga bagi keluarga. Ibarat menjadi juara umum dalam kenaikan kelas di sekolah favorit.

Terlebih setelah resmi menjadi ‘orang dalam’ perusahaan asuransi, dan lebih leluasa untuk mengenal asuransi lebih dalam lagi, saya mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi dengan biaya dari perusahaan.

Karena bekerja di perusahaan asuransi, tentu saja bidang studi yang dipilih masih di bidang asuransi. Jadilah saya semakin memahami apa sebenarnya asuransi itu karena selama tiga tahun mempelajarinya secara akademik.

Tak seperti anggapan kebanyakan orang bahwa asuransi itu curang karena hanya mengumpulkan dana nasabah saja, asuransi yang saya pelajari di bangku kuliah memiliki wajah yang sangat berbeda. Asuransi bahkan berangkat dari konsep yang sangat mulia.

Asuransi memfasilitasi orang yang ‘bernasib baik’ karena tidak mengalami risiko kerugian, untuk bisa membantu mereka yang ‘nasibnya kurang baik’ karena mengalami kebakaran atau kecelakaan. Bukankah tolong menolong di antara sesama itulah yang membedakan harkat dan derajat manusia bila dibandingkan dengan mahkluk hidup lainnya?

Ketika manusia merasa gelisah akan masa depannya, asuransi memungkinkan orang untuk menyimpan harapan. Berharap harta benda yang dimiliki aman dari kebakaran, pencurian, atau perampokan. Berharap selalu sehat hingga akhir hayat. Berharap barang dagangan yang dikirim tidak mengalami kerusakan hingga tiba di tangan pelanggan. Semuanya bisa dilakukan dengan mudah, semudah membeli polis asuransi.

Lantas, setelah mengenal asuransi lebih dekat lagi, apakah masih perlu mencemaskan ketidakpastian masa depan? Ibarat berjalan di atas kerikil, selama memiliki kaki yang kuat untuk melangkah, bahkan menemukan jalanan berbatu pun tak masalah.

Meskipun masih menyimpan kekhawatiran akan masa depan, bila memiliki asuransi yang memberikan harapan, tetap menjalani hidup dengan berani tidak lagi mengherankan. Itulah yang saya rasakan.

Asuransi ternyata tak sepenuhnya menghilangkan kecemasan, tapi memberikan kita kekuatan untuk menghadapi apapun yang akan terjadi di masa depan.

Margaretha Lina Prabawanti
Margaretha Lina Prabawanti

Leave a Reply