Oleh : Ucu Abdul Barri*
Hidup lagi capek-capeknya, harus hadapi kejadian tak terduga dengan keluar biaya untuk berobat anak, melakukan perbaikan kerusakan kendaraan yang kena tabrak, mengganti layar handphone yang retak, bahkan harus hadapi pelanggan yang selalu nunggak. Serasa semesta tidak lagi berpihak dan membuat mental menjadi kian rusak.
Begitulah risiko, datang tidak diundang pulang harus diantar dengan berbayar. Namun sayangnya risiko sulit untuk diprediksi dan dihindari agar tidak datang kembali.
Tidak ada yang dapat menjanjikan bahwa hari esok akan berjalan sesuai harapan, karena terbatasnya kendali kita terhadap semua hal yang telah direncanakan. Terkadang perencanaan hidup dan juga kegiatan usaha yang telah disusun dengan baik dapat berantakan karena adanya gangguan yang dapat menghancurkan harapan dan menimbulkan kerugian.
Lantas bagaimana kita harus bersikap?
Berdamai Dengan Ketidakpastian
Derasnya arus informasi di era saat ini telah memenuhi ruang-ruang publik digital yang dapat diakses dengan mudah oleh warganet. Media sosial menjadi salah satu tempat yang digunakan dalam penyebarluasan informasi bahkan sebagai ruang untuk mengekspresikan diri dari penggunanya.
Kejadian-kejadian yang tidak terduga banyak kita lihat dan dengar di media sosial tanpa harus kita merasakan sendiri atau bahkan sebagian sudah pernah mengalaminya, seperti pemberitaan barang di bagasi yang hilang atau rusak, delay pesawat, gadget yang tiba-tiba rusak, kena penipuan online, bisnis yang gulung tikar karena gagal bayar, kucing kesayangan kena racun mematikan, bahkan ada pemberitaan selebriti yang menggalang dana untuk pengobatannya di rumah sakit dan banyak lagi permasalahan lainnya.
Proteksi asuransi menjadi kunci sekaligus sebagai solusi untuk berdamai dengan ketidakpastian, sehingga risiko yang datang dapat termitigasi dan kerugian tidak terjadi. Sebagaimana fungsinya, asuransi dapat mengembalikan posisi finansial seperti sesaat sebelum terjadinya risiko. Dengan demikian, hadirnya asuransi dapat melindungi kehidupan dan aset yang dimiliki pada saat hal tersebut terjadi. Namun, pemahaman ini nampaknya belum dirasakan secara menyeluruh, sehingga tingkat kebutuhan untuk memiliki asuransi masih rendah.
Ada yang menarik dari data literasi dan inklusi keuangan khususnya pada sektor perasuransian. Mengacu pada data OJK di tahun 2022, terdapat gap yang melebar dari sebelumnya 6.25% di tahun 2019 menjadi 15.09% di tahun 2022. Indeks literasi asuransi meningkat dari 19.40% menjadi 31.72% sedangkan indeks inklusi asuransi meningkat dari 13.15% menjadi 16.63%. Artinya bahwa secara literasi masyarakat sudah mulai mengetahui betul dengan produk asuransi, namun tingkat penggunaannya masih rendah.
“Pahami dan miliki asuransi” menjadi tagline yang tepat dalam mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan di sektor perasuransian. Literasi bukan hanya sekedar mengetahui produk nya saja, melainkan perlu diikuti dengan pemahaman yang menyeluruh sehingga mampu menciptakan mindset berasuransi yang sehat.
Setidaknya ada 3 (tiga) mindset penting yang perlu diluruskan dalam berasuransi, pertama asuransi bukan tabungan atau investasi, melainkan merupakan produk keuangan untuk perlindungan finansial dalam menghadapi risiko yang tidak terduga. Kedua, asuransi bukan menambah beban biaya hidup, melainkan menjaga beban biaya hidup agar lebih terkendali. Ketiga, pusing dengan produk-produk asuransi, saat ini produk asuransi mudah dipahami karena telah didukung digitalisasi.
Awalnya, saya pribadi sebagai generasi millenial sekaligus sebagai pencari nafkah utama di keluarga memandang bahwa membeli asuransi adalah bakar-bakar uang semata. Namun ternyata, jika risiko datang tanpa adanya proteksi asuransi, yang ada justru keluar lebih banyak uang tanpa terprediksi, bahkan harus pinjam sana-sini.
Penting bagi kita untuk meyakini bahwa risiko tidak dapat dihindari, namun dapat dimitigasi melalui proteksi asuransi.
Karena Kepastian ada Pada Hari Ini
Para ahli di berbagai belahan dunia tengah membawa hari esok ke hari ini melalui big data, artificial intelligence (AI), blockchain dan juga penerapan teknologi lainnya sebagai upaya dalam menentukan pijakan dan langkah baru yang harus dilakukan di hari ini.
Semua industri terus berbenah, tidak terkecuali di industri perasuransian. Penerapan teknologi untuk digitalisasi asuransi terus dilakukan. Akses terhadap produk asuransi semakin mudah, jenis produk yang semakin bervariatif, transaksi yang semakin cepat dan murah, kesemua itu terus dilakukan untuk menghadirkan wajah hari esok yang lebih cerah.
Hari ini adalah hari perbaikan untuk hari esok yang penuh ketidakpastian. Berdamai dengan ketidakpastian melalui proteksi asuransi bukan hanya sekedar untuk memitigasi risiko yang mungkin terjadi, melainkan untuk memperoleh ketenangan dan kenyamanan serta dapat fokus menggapai harapan untuk hari esok yang telah direncanakan.Berasuransi merupakan bentuk ikhtiar bagi kita untuk menjaga kelangsungan kehidupan keluarga, keamanan terhadap aset berharga, kenyamanan saat healing dan berkumpul bahagia, bahkan menjaga kelangsungan usaha agar tidak terkendala karena gagal bayar dari pelanggan kita. Semua dapat kita jaga mulai hari ini, dengan memiliki asuransi.
*Head of Corporate Planning at PT. Asuransi Ekspor Indonesia (Persero). Tulisan merupakan opini pribadi.
1 comment
Tulisan yang menggugah, kalau boleh tanya bagaimana kita memandang perlunya asuransi tapi nilai premi nya belum bisa dibayar dengan cara pembayaran WPC 30 Hari?