Back

BMA 2024: STIFIn, Solusi Agen Lebih Produktif

oleh: Sugeng Widodo*

Peran agen asuransi sangat krusial untuk menjelaskan produk-produk asuransi dengan tepat dan efektif kepada calon pembeli (prospek). Kemampuan agen memahamkan dan meyakinkan calon pembeli atas benefit produknya akan berdampak positif pada produktivitasnya.

Menurut AAJI data jumlah agen asuransi (jiwa) pada kuartal I 2023 mencapai 500 ribu. Jumlah yang relatif besar ini bisa menjadi kekuatan bagi industrai asuransi jiwa untuk menarik pemegang polis baru. Dalam hal ini, ketrampilan penjualan agen perlu terus diasah agar dapat membantu prospek  memahami serta memilih polis asuransi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Sebelum mengasah ketrampilan penjualannya, agen perlu lebih dulu memahami potensi dirinya. Dengan memahami potensi diri, agen akan mampu berpikir, bertindak, dan berinteraksi efektif dengan prospek.

Bagaimana agen  dapat memahami potensi dirinya? Alat bantu agen untuk memahami potensi diri dengan lebih baik, yaitu metode STIFIn. Tes STIFIn adalah metode ilmiah yang mengidentifikasi kecerdasan dominan seseorang berdasarkan sidik jari. STIFIn singkatan dari Sensing (S), Thinking (T), Intuiting (I), Feeling (F), dan Insting (In). Diantara lima tipe itu ada satu tipe yang paling dominan.

Pentingnya Pemahaman Diri bagi Agen Asuransi

Memahami diri sendiri, bagi agen asuransi, murupakan langkah pertama yang sangat penting sebelum mencoba memahami orang lain. Dengan memahami tipe kecerdasan diri sendiri, agen akan lebih mudah mengenali kekuatan, kelemahan, dan gaya komunikasi yang paling efektif. Misalnya, agen dengan tipe kecerdasan Thinking cenderung analitis dan logis, sementara agen dengan tipe kecerdasan Feeling lebih empatik dan peduli terhadap perasaan orang lain.

Agen asuransi yang memiliki pemahaman diri lebih baik akan mampu: 1) Meningkatkan keterampilan komunikasinya dengan menyesuaikan cara berbicara, mendengarkan, dan berinteraksi dengan prospeki sesuai dengan kebutuhan mereka. 2) Mengoptimalkan strategi penjualan dengan memaksimalkan potensinya untuk mempengaruhi dan meyakinkan prospek. 3) Meningkatkan motivasi dan produktivitas dengan bekerja sesuai potensi alaminya.

Mengidentifikasi Tipe Kecerdasan Prospek

Agen asuransi selain memahami potensi diri perlu mengidentifikasi tipe kecerdasan dominan prospek. Apabila agen dapat memahami tipe kecerdasan prospek, ia akan dapat mengarahkan percakapan sesuai dengan gaya komunikasi prospek dan menyampaikan manfaat produk asuransi dengan cara yang lebih relevan sehingga mudah dipahami prospek.

Agen mungkin dapat mengidentifikasi tipe kecerdasan dominan prospek dengan cara: 1) Memperhatikan gaya bicara prospek. Seorang prospek dengan tipe Thinking biasanya lebih suka berbicara logis dan langsung, sementara tipe Feeling lebih banyak berbicara tentang perasaan dan hubungan. 2) Mengamati cara prospek memutuskan. Tipe Intuiting cenderung membuat keputusan berdasarkan visi jangka panjang, sementara tipe Sensing lebih mengandalkan data konkret dan fakta. 3) Mencermati respon emosional prospek. Tipe Feeling lebih responsif terhadap hubungan emosional, sementara tipe Insting cenderung religious dan suka menolong.

Strategi Penjualan Agar Produktif

Dalam konsep STIFIn, setiap tipe kecerdasan memiliki pendekatan yang berbeda dalam melakukan penjualan. Setelah memahami tipe kecerdasan diri sendiri dan calon pembeli, langkah selanjutnya adalah menerapkan pemahaman ini dalam strategi penjualan asuransi.

Penjelasan mengenai kelima tipe kecerdasan STIFIn dan bagaimana setiap tipe dapat menyesuaikan strategi penjualan asuransi, dicontohkan sebagai berikut:

Akhirnya, pemahaman potensi diri ini tidak hanya membantu agen dalam meningkatkan produktivitas, tetapi juga membantu banyak orang lebih memahami manfa’at asuransi dan mendapatkan perlindungan melalui polis asuransi.

Pertama, Sensing (S).  Agen dengan tipe kecerdasan Sensing cenderung praktis, detail-oriented, dan menyukai data konkret. Mereka lebih nyaman bekerja dengan fakta dan angka. Di sini, strategi penjualannya, antara lain: 1). Gunakan fakta dan angka yang konkret saat menjelaskan produk asuransi. 2) Sajikan contoh studi kasus atau simulasi keuangan untuk membantu prospek memahami manfaat asuransi dan fokus pada solusi nyata yzng bisa diberikan oleh produk asuransi.

Kedua, Thinking (T). Agen dengan tipe kecerdasan Thinking cenderung analitis, logis, dan rasional. Mereka lebih suka bekerja berdasarkan logika, data, dan argumentasi yang kuat. Adapun strategi penjualan tipe ini, diantaranya: 1) Sajikan argumen logis yang mendukung pentingnya asuransi. 2) Tawarkan penjelasan bagaimana asuransi bekerja, termasuk risiko dan keuntungan jangka panjang.

Ketiga, Intuiting (I).  Agen dengan tipe kecerdasan Intuiting cenderung visioner, kreatif, dan berpikir jangka panjang. Strategi penjualan untuk tipe ini, antara lain: 1) Fokus pada visi jangka panjang dan manfaat asuransi dalam melindungi nilai ekonomi di masa depan calon pembeli. 2) Gunakan cerita atau analogi yang menginspirasi untuk menjelaskan manfaat asuransi.

Keempat, Feeling (F).  Agen dengan tipe kecerdasan Feeling cenderung empatik, peduli terhadap orang lain, dan sangat menghargai hubungan interpersonal. Sedang strategi penjualan untuk tipe Feeling diantaranya: 1) Bangun hubungan emosional yang kuat dengan calon pembeli sebelum menawarkan produk asuransi. 2) Berikan penjelasan yang menyentuh hati pentingnya proteksi bagi orang-orang yang mereka cintai dan rasa aman dengan memiliki polis asuransi.

Kelima Insting (In). Agen dengan tipe kecerdasan Insting cenderung cerdas secara alami. Mereka memiliki kemampuan untuk membuat keputusan cepat dan sering kali dapat merasakan apa yang terbaik dalam situasi tertentu. Strategi Penjualan untuk Tipe Insting: 1) Percayai naluri agen saat berinteraksi dengan calon pembeli dan mungkin dapat membaca kebutuhan mereka dengan cepat. 2) Gunakan kemampuan insting untuk menawarkan solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan klien.

* Penulis dan Promotor STIFIn Brain

Sugeng Widodo
Sugeng Widodo

Leave a Reply