Belakangan ini tren marriage is scary semakin ramai diikuti oleh Gen z, khususnya mereka yang sudah memasuki usia 20 tahun ke atas. Istilah ini secara harfiah memiliki arti “pernikahan itu menakutkan”, dan umumnya diikuti frasa “what if” yang berarti “bagaimana jika”. Ambil saja contoh judulnya “Marriage is scary, what if pasangan skeptis sama asuransi”. Popularitas tren ini berawal dari konten-konten video pendek dari TikTok, lalu menyebar ke X (Twitter) hingga Instagram.
Konten-konten tersebut berisi kekhawatiran seseorang dalam menghadapi pernikahan yang dianggap penuh ketidakpastian, seperti kegagalan dalam pernikahan, perselingkuhan, kecukupan finansial dalam berkeluarga, atau bahkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Belum lagi diperburuk dengan banyaknya berita kasus-kasus perceraian influencer atau artis yang tersebar di media.
Tren ini semakin memperburuk kecemasan yang dirasakan generasi muda dalam menghadapi pernikahan. Mereka tidak hanya takut terjebak dalam komitmen yang salah, lebih jauh mereka menghadapi kekhawatiran terkait implikasi finansial dari pernikahan. Ketakutan ini meliputi biaya-biaya seperti biaya pesta pernikahan yang besar, membeli rumah, biaya kebutuhan rumah tangga, hingga perencanaan masa depan dengan pasangan.
Namun, kekhawatiran ini tidak selalu membawa dampak negatif. Jika dihadapi dengan sikap yang bijak, justru dapat memicu kesadaran (awareness) yang lebih tinggi pada generasi muda. Ketakutan terhadap komitmen dan keuangan dapat mendorong generasi muda untuk lebih proaktif dalam memecahkan masalah perencanaan masa depan dan keuangannya. Hal ini mencakup mempelajari rencana keuangan bersama pasangan, mempersiapkan dana darurat, hingga mempertimbangkan pentingnya asuransi sebagai instrumen perlindungan dari berbagai risiko finansial yang mungkin dihadapi di masa depan.
Menurut Dokter Tirta pada salah satu konten videonya di Instagram, Gen z justru lebih memiliki kesadaran terhadap risiko-risiko hidup khususnya yang berkaitan dengan kesehatan mental dan stabilitas finansial. Generasi ini cenderung akan melakukan berbagai pertimbangan finansial sebelum mengambil keputusan besar, seperti pernikahan atau memiliki anak.
Ketidakpastian yang dihadapi dapat dikelola dan diminimalisir dengan cara mengenali profil risikonya. Kita misalkan pada saat proses mencari pasangan, kita akan mencari tahu apakah orang tersebut adalah profil yang tepat untuk kita. Mungkin kita akan mempertanyakan pertanyaan umum semacam apakah dia merokok atau mungkin memiliki gaya hidup yang berdampak negatif di masa depan. Atau jika berbicara tentang selera, kita akan mencari tahu apakah dia mempunyai hobi dan ketertarikan yang sama dengan kita.
Proses menghadapi ketakutan terhadap pernikahan sebenarnya sangat mirip dengan konsep asuransi dalam manajemen risiko, di mana langkah pertama yang perlu diambil adalah mengenali potensi risiko yang mungkin timbul. Dalam konteks pernikahan risiko ini bisa berupa perbedaan gaya hidup, kondisi kesehatan, hingga kepemilikan aset seperti rumah atau kendaraan bermotor yang memerlukan perlindungan. Dengan memetakan potensi risiko yang dimiliki, nantinya kita dapat menerapkan langkah-langkah strategi mitigasi yang tepat untuk meminimalisir akibat kerugian risiko tersebut. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi risiko, tapi juga memberikan ketenangan dan kenyamanan batin, selaras dengan fungsi asuransi yang memberikan certainty (kepastian).
Peran asuransi sebagai instrumen perlindungan finansial dalam konteks pernikahan dan pasangan mempunyai fungsi yang bervariasi tergantung produknya. Asuransi kesehatan memastikan bahwa individu terlindungi dari berbagai biaya medis yang tak terduga, yang sewaktu-waktu menjadi beban besar bagi rumah tangga jika tidak dilindungi asuransi. Dengan asuransi kesehatan, pasangan dapat merasa lebih aman dalam menghadapi risiko kesehatan yang mungkin timbul dan dapat terhindar dari tagihan biaya pengobatan yang mahal. Ini memungkinkan pasangan untuk menjaga stabilitas keuangan mereka.
Asuransi jiwa memberikan keamanan bagi pasangan yang ditinggalkan jika hal-hal yang tak terduga terjadi, memastikan ketersediaan finansial meski terjadi kematian salah satu pihak. Selain itu, asuransi kerugian atau asuransi harta benda melindungi aset-aset berharga seperti rumah dan kendaraan bermotor dari risiko kecelakaan, pencurian atau kerusakan pada aset harta benda. Dengan adanya asuransi, pasangan dapat membangun fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi ketidakpastian secara bersama-sama, melindungi tidak hanya diri mereka sendiri, namun keluarga dan aset harta benda mereka untuk kualitas hidup yang lebih baik.
Industri asuransi kini juga mulai mengadaptasi dirinya dengan meluncurkan produk-produk serta layanannya secara digital agar lebih mudah dipahami generasi muda. Produk-produk yang fleksibel dan premi yang lebih terjangkau tentunya juga akan menarik perhatian Gen z untuk mempertimbangkan membeli asuransi. Gen z masih mempunyai sikap skeptis terhadap asuransi, namun semakin sadar akan pentingnya perencanaan keuangan.
Meskipun awalnya tren “Marriage is scary”ini mendorong kecemasan di kalangan generasi muda, pada akhirnya bisa memotivasi generasi muda untuk lebih sadar akan pentingnya stabilitas finansial dan pengelolaan risiko. Secara keseluruhan, asuransi bertindak sebagai bentuk penyeimbang rasa takut yang muncul dari ketidakpastian dalam pernikahan. Perlindungan finansial yang diberikan asuransi memungkinkan pasangan untuk merasa lebih aman, sehingga mereka lebih fokus untuk membangun hubungan yang sehat dan stabil tanpa perlu khawatir tentang risiko tidak terduga yang dapat memberikan kerugian.